Senin, 01 Oktober 2012

cerpen Seribu tahun Untukmu


Seribu tahun untukmu
                Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan angka 22.09. namun mataku belum mampu ku pejamkan. Sedari tadi aku memilih duduk di depan layar komputerku. Kebetulan baru saja laptopku lowbat, sehingga aku memutuskan mengutak-atik kompi ini. Sebenarnya aku tidak mengutak-atik, namun justru sibuk memperhatikan foto seseorang.
                Ingatanku kembali pada kejadian setahun lalu, sebelum orang yang ada di dalam foto itu tak dapat lagi ku temui.Setahun yang lalu, sebelum nasib membawanya ke kehidupan yang penuh glamour dan kesempurnaan. Setahun yang lalu, sebelum dia memutuskan pergi, dan aku hanya bisa mengiyakan keinginannya itu.
                “gue mau rebut mimpi gue, gue yakin bakal pulang kok. Gak bakal ada yang pisahin kita. Lo tetep satu buat gue. Gue butuh doa lu..” ujarnya. Saat itu suasana betul-betul syahdu, angin sepoi-sepoi menyapu jilbabku di pinggir danau kecil di belakang rumahku.
                “Ga papa, lu pergi aja, ga usah berat gitu.” Ujarku. Rasanya aku ingin menangis, namun ku tahan. “doa gue ada buat lu..selalu” lanjutku.
                “Makasih.. gue sayang sama lu. Tungguin gue yah, gue harap lu mau tetep nungguin gue.”katanya lagi, lalu menatapku. Aku tak bisa menjawab apapun, aku sedang berusaha melawan hatiku yang ingin menangis. Jujur, ingin rasanya ku peluk dia, erat.Namun itu tak mungkin, aku tahu itu salah. Aku hanya bisa berdiri mematung di depannya.
                Air mataku seketika berhamburan.Tak ada yang mampu mendengarnya, karna itu hanya isak kecil. Malam ini semuanya sudah tidur, sehingga aku bebas mengekspresikan air mataku yang dulu tak sempat ku keluarkan.Tuhan, betapa lama tak ku temukan dia. Tak dapat lagi ku lihat candanya, senyumnya yang asli.Semua kini hanya dapat ku lihat di tivi.Dia telah merebut mimpinya, memiliki boyband.Itu mimpinya dari dulu, sudah ku tahu.Dan kini, aku memang harus menerima kenyataan, hanya bisa melihatnya di tivi.
                Sebenarnya, awal dia ke Jakarta kami masih sering telpon-telponan.Namun ternyata itu hanya sementara.Ketika Boybandnnya mulai terkenal, dia perlahan menghapus bayanganku.Semenjak 8 bulan yang lalu, tak ku dapat lagi 1 pun smsnya. Apalagi sekarang, ku yakin blackberry telah menjadi pegangannya, sehingga aku semakin sulit menghubunginya. Tapi biarlah, mungkin memang aku hanya seperti seorang fans di mata dia.
                Pagi hari, setelah shalat subuh, ku coba menata hatiku.Setelah semalam mataku mengeluarkan cukup banyak cairan, kini mataku tampak bengkak. Sangat lucu memang jika aku habis menangis, pipiku tampak naik dan tembem, bibirku dower, dan mataku sipit bin gembul. Ibuku sempat syok melihat keadaanku ini, namun aku hanya bilang “Semalam sakit perutku kumat bu, jadinya nangis bombastis deh sendirian”.Ku tahu ibu tak percaya, tapi biarlah.
                “Wah, BLASTBOY bakal tampil diacara sekolah kita..” cerocos Dian saat aku sampai di kelas. Ku lihat suasana kelas mulai gaduh, dan tema pembicaraan mereka satu “BB mau nongol di sini!”
                “Oh yah? Asik tuh..” jawabku sok asik. Biarlah.Ku tahu, tak ada yang tahu siapa sebenarnya salah satu dari personil boyband itu bagiku.
                “Berarti ada abang Kifly yah! Haseekk..” sorak dian, sangat heboh, tepat disebelah kupingku.
                “Iya, abang Kifly lu ada kok, tenang! Bukan beebe namanya kalo abang lu kaga ada, kaga ada yang bakal joget poco-poco kalo abang lu kaga ada..” jawabku asal dan memilih duduk sambil merapikan jilbabku. Tak ku pedulikan Dian yang memasang tampang manyunnya.
                Hatiku bersorak.Rasanya seperti mimpi.Setelah semalam ku tumpahkan air mataku untuknya, sebentar lagi aku bisa bertemu dengannya.Semenjak aku pindah ke Depok, memang sudah sangat minim informasi yang ku temukan tentang dia. Seandainya aku masih di sekolahku yang lama, tentu aku masih bisa sering-sering melihat wajahnya. Namun ku syukuri bisa berada di sekolahku yang baru ini, karena aku bisa kenal dengan seorang DIAN, yang tak lain adalah satu dari sekian lovklies, fans-fansnya Kifly, dan dari Dianlah ku dapat banyak info tentang Kifly, termasuk tentang hubungannya kini dengan artis-artis yang jelas jauh lebih sempurna dariku, dan juga hubungannya dengan artis muda yang sedang naik daun itu.
                Dan hari itu pun tiba. Aku dan Dian yang tak memiliki jabatan di kepanitiaan acara sekolah ini, karena bukan mahluk eksis, hanya bisa menjadi penonton sejati. Tapi tak mengapa, demi bisa melihat wajahnya, aku ikhlas menemani Dian hilir-mudik mencari tempat yang pas untuk menyaksikan BLASTBOY di panggung.
                Tempat yang di pilih Dian memang betul-betul pas dari segala arah. Dari tempat ini, dengan jelas dapat ku lihat satu persatu member BLASTBOY turun dari mobil. Suasana sekolah mulai gaduh, bahkan sangat gaduh. Walau tak terlalu jelas, namun bisa ku lihat sosok seseorang yang ku yakini dia. Dia, masih dengan tubuh mungilnya.Bibirnya masih seimut dulu, dan meskipun memakai kacamata selebar itu, namun tulang pipinya masih sangat ku hapal.Itulah dia, Dewa Alvino Zulkifly!
                Saat ini prasaanku campur aduk.Ingin ku menangis karena bisa melihatnya lagi, namun ingin pula ku menangis karena tak berarti lagi dimatanya. Intinya aku hanya ingin menangis. Sudahlah, aku memang bukan siapa-siapanya.Aku hanya bisa melihatnya dari tempatku kini. Aku tak bisa mengikuti yang lainnya, yang sibuk mengikuti BLASTBOY bernyanyi dan berjoget di panggung. Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku, biarkan aku menata hatiku dulu. Arkkh!
                Setelah single pertamanya selesai, Dian lalu mengajakku ke ruang panitia.Dia yang memiliki cukup banyak teman di ruang panitia itu akhirnya dengan bebas dapat masuk ke ruangan itu, dan bertemu langsung dengan 7 cowok member BB  bak malaikat itu. Aku hanya mengekor di belakang Dian.
                “Dian! Sini! Ini Kifly loh.. Sini” Sorak Reva, sambil melambaikan tangannya ke arahku dan Dian, yang sedari tadi mencari abang Kiflynya itu.
                “Wuaaahhh, ini Kifly?Serius? Wuah..ini Kifly. Manis yah, manis yah..”Dian sangat histeris.Wajarlah.Namun, jika aku bisa mengeluarkan semua isi hatiku, aku bisa jauh lebih histeris darinya.
                “Iya, saya Kifly.”Jawab cowok itu polos, sambil melap wajahnya.Keringat tampak sangat jelas di wajahnya.
                “Gue lovklies loh, fans banget sama loe. Abis, loe itu diciptain ama tuhan kok manis banget sih..”Dian tampak berseri-seri, penuh semangat.
                “Ah, biasa aja kali.Gak usah fanatic gitu ah, gue Cuma manusia biasa kok. Coba gue ga di BB, ga bakal lu puja kayak gini juga kan..hehe..” tutur Kifly. Dia sempat melirik ke arahku.
                “Oh iya yah. Tapi kalo foto bareng boleh dong..”Dina lalu mengulurkan hapenya padaku, tanpa menunggu persetujuan dari Kifly. Aku hanya bisa menurutinya.
                Saat memengang hape Dian, tiba-tiba hapeku pun berbunyi.Segera ku keluarkan dari saku bajuku. Hanya sebuah sms, itu pun juga dari ibu, nitip apel yang di dekat sekolahku. Dasar yah, ibu-ibu maunya itu aneh-aneh.Katanya, apel dekat sekolahku itu apel termanis di dunia. *plakk
                “tunggu, jangan bilang gue kenal lu dan boneka ini.”Kifly tiba-tiba memegang boneka yang ada di gantungan hapeku. Aku gugup.Ya Allah, mengapa dia mesti melihat boneka ini?
                “Oh, nggak kok. Kamu salah kali..” jawabku lalu memasukkan hapku ke saku bajuku lagi.
                “Nggak, gue kenal sama lu. Lu Tiani kan?” dia menatapku dalam.Aku semakin gugup.
                “Bukan, gue bukan Tiani, gue Nita..” bantahku. Tiba-tiba saja rasanya aku ingin menangis.
                “Iya, Stianita Dewi Pratiwi. Gue Kifly, loe lupa gue?” katanya sambil memegang pundakku. Segera ku tepis kedua tangannya.
                “Bukan! Gue gak kenal loe! Loe gak kenal gue! Kita gak saling kenal.”Ku kembalikan hape Dian lalu kembali ke kelasku.Ya Allah, aku ingin bilang iya, iya, gue Stianita Dewi Pratiwi, gue kenal loe, kenal banget.Tapi itu tak mungkin.Terlalu bodoh rasanya ketika harus mengakui semuanya disaat seperti ini. Yang ada di pikiranku sekarang, aku harus segera sampai di kelas, tanpa mempedulikan sekelilingku.
                Ini bukan sinetron, karena kifly tak mengejarku seperti di sinetron-sinetron. Aku sudah tahu diri kok. Pasti dia jauh lebih mementingkan honornya dibanding mengejarku dan meninggalkan panggung itu.Dari kelasku, masih jelas ku dengar suara boyband itu bernyanyi di tengah-tengah suara riuh-rendah orang-orang yang memujanya.
                Beberapa menit berlalu, aku baru sadar tak ku dengar lagi suara BLASTBOY bernyanyi, hanya suara beberapa orang siswa yang bergantian menyumbangkan lagu.Mungkin boyband itu sudah pulang, pikirku.Setelah menenangkan hati, pikiran, jiwa, raga, lambung, jantung (Haduh, lebayyy), akhirnya aku memutuskan meninggalkan kelasku.
                Baru selangkah kulangkahkan kakiku dari bangkuku, pintu kelasku tiba-tiba terbuka. Jika yang datang itu malaikat, tentu aku akan segera menutup mata karena silaunya cahaya malaikat itu. Namun yang datang ternyata : KIFLY pemirsa! Aku hanya bisa berbalik dan kembali duduk di bangkuku, berharap bangkuku memiliki jimat ajaib, sehingga dia tak dapat melihatku ketika aku duduk di bangkuku.
                Namun itu hanya mimpi. Justru dia semakin mendekat.
                “Napa lu ngindar? Lu udah gak mau kenal gue?Udah lupa sama gue?” ujarnya.
                Aku tak menjawab apa-apa, hanya sibuk kupandangi dirinya yang duduk di bangku di depanku.
                “jawab! Jadi gini respon lu setelah lama gak ketemu gue. Gue kangen sama lu. Oh, mungkin lu udah dapat ganti gue. Sori kalo lu udah ga tahan nunggu gue lama.” Emosi yang campur aduk terpancar dari wajahnya.
                “pengganti? Gue masih sendiri, seperti yang lu liat. Gue.. sampai sekarang.. masih nunggu seorang..seorang yang ternyata udah dapat bidadari.” Ujarku terbata. “selamat yah..” lanjutku.
                “Ga, loe salah paham. Gue masih sayang sama lu, mana bisa gue cari ganti lu. Itu semua gosip. Ngertiin posisi gue, gue public figure.” Jelasnya.
                “Gue ngerti. Saking ngertinya gue, gue sabar kok setiap kali mention gue gak lu balas, inbox gue lu delete, sms gue lu kacangin. Gue ngerti, lu sibuk manggung sana-sini. Gue ngerti lu dikelilingin banyak bidadari. Gue ngerti, gue ngerti hidup lu. Makanya, karena gue ngerti, gue gak bakal sentuh hidup lu. Anggap kita gak pernah kenal. Anggap gue fans lu juga ga papa. Anggap gue masa lalu, udah cukup buat gue. Ga usah peduliin janji lo dulu, anggap aja gak ada..”jawabku datar, sedatar hatiku saat ini.
                Suasana hening.Dia diam, aku pun diam. Ingin rasanya segera pergi, namun kakiku seolah berat untuk ku angkat.Ku biarkan dia yang sibuk menunduk.Ku buang perhatianku ke sepatuku, berharap ada pintu ajaib di sepatuku dan aku bisa segera meninggalkan cowok ini.
                “Gue salah, gue minta maaf.” Dia pindah posisi, dan duduk di mejaku. Aku memilih menunduk. Sekilas ku lihat matanya sedikit sembab. “ga ada yang salah, ga ada yang perlu dimaafin.” Ujarku lirih.
                “mau lu sekarang apa? Gue bakal nurutin, sebagai tanda betapa besukurnya gue bisa ketemu lu lagi. Gue pengen kita kayak dulu. Main bareng, belajar bareng, ngambek-ngambekan, foto bareng, jalan.Gue mau semua itu. Gue bakal ada waktu buat lu.” Ucapannya membuatku semakin mengenang masa lalu kami.
                “Gak perlu. Cukup lu lupain gue, jalani idup lu. Kita sekarang udah beda. Lu itu bintang, ga bakal ada yang nginjak, malah di puja. Dan, gue Cuma asteroid, ga ada pengaruh, tanpa ngitung gue, jarak matahari ke neptunus juga udah bisa di tau kok.” Jawabku datar. Ini suara hati. “sayangi pacar lu yang sekarang yah, dia cantik, serasi banget sama lu.”
                “lu tega banget sih sama gue, gue gak bisa begini. Gue butuh lu. Lu udah ngancurin prasaan gue. Selama ini gue cari lu, yang gue dapat Cuma pengusiran doang dari lu? Ga sekalian aja lu tampar gue di depan umum.” Dia lalu berdiri di sampingku. Emosi mulai merambah otaknya.
                “Tapi kita beda, Wer, kita beda..” tanpa sengaja penggilan ku ke dia, si Dower, ku ucapkan.
                “Beda apanya sih? Gue begini juga karna ijin lu. Apa perlu gue lepasin semuanya, biar bisa sama lu?” suaranya mulai meninggi.
                “Ga, ga usah. Jalani aja idup lu. Gue udah gak bisa ganggu dan ada di idup lu lagi, udah ada yang ngisi posisi gue, yang jauh lebih sempurna.” Aku berdiri dan meraih tasku. “Jaga dia, jaga diri lu juga.” Aku pun melangkahkan kakiku.
                “ Maafin gue, maafin gue, Sti!” aku berhenti. Baru kali ini ku dengar dia membentakku.
                “ya udah, gue bakal jagain dia, asal lu mau janji, tungguin gue lagi. Kedua kalinya aja. Gue janji, bentar aja gue bakal ga sama dia, bahkan kalo lu mau sekarang juga gue bisa.” Suaranya ku dengar penuh isak. Inilah suaranya yang dulu, ketika dia ngambek di depanku.
                “Ga usah. Gue gak mau rusak hati dia. Cukup gue aja yang sakit.” Aku lalu berbalik dan menghampirinya. Ku beranikan diri menatap matanya. “Kalo kita jodoh, kita bakal satu lagi kok. Lu tenang aja, gue punya seribu taun waktu buat nungguin lu..”aku berusaha menguatkan diriku, karena ku tahu, semakin dia melihatku lemah, justru dia yang akan semakin lemah.
                “gue mau peluk lu, plis, sekali aja. Anggap sebagai tanda kita jodoh.” Tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung memelukku. Ku tahan hatiku agar tak hanyut dalam suasana ini, namun aku tak mampu, aku justru semakin ingin menangis.
                “udah ah, lu pulang gih. Teman-teman lu udah pada nungguin lu tuh..”ku lepaskan pelukannya, meskipun berat. “Muka lu jelek tau kalo udah nangis, bibir lu makin dower” candaku. Ku sapu air matanya denga ujung jilbabku.
                “mending dower, daripada lu, makin sipit matanya, gak bisa liat gue. Week..” balasnya sambil tersenyum. “Anterin gue ke bawah ya..” dia lalu memegang tanganku dan menuju ke pintu.
                Ya Allah, penonton membludak di pintu! Tanpa kami sadari, ternyata pintu kelas sudah terbuka lebar, bahkan beberapa siswa duduk di bangku barisan dekat pintu, termasuk member BLASTBOY. Aku malu.Mukaku seketika pucat. Ku lirik Kifly, dia jauh lebih syok.
                “Dramanya keren yah, lanjut dong..” ujar seseorang, yang kuyakini bernama Devan, slah satu personil BB yang paling jao ngedance.
                “Oh, jadi ini yah cewek yang dulu lu certain ke gue…” ku yakin, itu Rian.
                “Kisah lu bikin mewek nih…” dan aku yakin itu suara Ardi, Member BB yang paling putih.
                “Astaga, Ti, jadi lu ada apa-apa sama abang gue? Pantes setiap gue cerita soal dia, lu kayak udah tau duluan, eh ga taunya dia tiiit lu yah..”kali ini Dian dengan suaranya yang cukup nyaring menghampiriku.
                “Ah, apa-apan sih?Ga ah, kita temen kok.”Ku lirik Kifly.“Udah, lu pulang gih, ntar pamor lu turun lagi kalo kelamaan deket gue.”Sebuah senyum ku berikan untuknya.
                “Ya udah, gue pulang deh.Tapi kalo pamor gue naik karna ini, lu mesti sama gue yah..”ujarnya lalu menarik hidungku, kebiasaannnya dari dulu. “bey, jaga diri lu yah.” Lanjutnya. Setelah di beri jalan, akhirnya dia berhasil keluar kelasku diikuti dengan teman-temannya.
                Ku lihat dia dari kelasku. Dia sudah hendak pergi. Dia masih sempat berbalik ke arahku sebelum memutuskan untuk masuk ke mobilnya.
                “Tungguin gue yah…” teriaknya. Meski samar-samar, namun masih dapat ku dengar suaranya.
                Ya, aku akan selalu ada, menunggumu. Walau semuanya mungkin kembali seperti ini lagi, tapi aku punya seribu tahun untuk selalu menunggumu, selalu. Inilah cinta, membutakan semuanya!




Stiianita_dmp 17.oktober 2011,
00.11 malam.

1 komentar: