Melodi
Valentine
Nisa,
begitulah biasanya teman-teman memanggilku. Lengkapnya, Dewi Farnizza
Queenaradha. Nama yang menurutku sangat panjang. Jam istirahat kedua di
sekolahku kali ini aku isi dengan membaca novel di depan kelasku. Tampak
temanku yang lainnya sibuk dengan rutinitas mereka.
Tidak
seperti sekolah lainnya, sekolahku ini dipenuhi dengan siswa dari berbagai
agama, ada Islam, Kristen, Hindu, Konghucu, hingga Budha. Hanya ada 35 siswa
yang beragama sepertiku, Islam. Tapi itu semua tak menyurutkan semangatku untuk
tetap bergaya Islam, karena di sekolah ini, hanya aku yang memakai jilbab. Itu
bukan masalah bagiku. Justru itu cirri khasku.
Sebuah
suara pianika terdengar disampingku. Segera, ku tutup novelku dan berbalik.
Dan, ya.. sudah ku duga !
“heii
Nis ! Lagi sibuk yah? Ke kantin yuk..” ajak Khair, cowok sekelasku yang
beragama Hindu, yang tadi memainkan pianika di sampingku.
“Oh,
iya.. makasih yah. Tapi aku udah tadi ke kantinnya.” Ku tatap papan nama yang
melekat di bajunya, Khairnas Wisnu Aryapura. Nama apa lagi ini, gumamku :D
“Oh,
ya udah, aku duluan yah.. bey !” dia berlalu sambil melambaikan tangannya.
Ku
lanjutkan membaca novel di tanganku itu. Seperti biasa, ketika aku duduk
sendiri seperti ini, akan ada 5 orang teman sekelasku yang berbeda agama, dan
berjenis kelamin c.o.w.o.k menghampiriku.
Dan yang kedua datang, yaitu Fary, lengkapnya
Mufaryus Christian, cowok beragama Kristen itu ketua kelasku. Selanjutnya, Rhan
Ansy Ianchan, wakil Ketua kelasku yang beragama Konghuchu, lalu I Made Naliq
Balika, teman sekelasku juga yang beragama Budha, dan terakhir ada si Addie
Januarta Railli, yang beragama Protestan.
Setelah
mereka berlima menghampiriku, waktunya tatapan aneh dari sebagian besar
temanku. Bahkan, banyak yang bilang, aku hanya bersembunyi di balik penutup
kepala anehku. Dan kali ini, seperti biasa, Ken, gadis yang terkenal sebagai
model di sekolahku menghampiriku. Roknya yang sejengkal diatas lutut
memperlihatkan betisnya yang mulus.
“Hey…
udah berapa kali gue ingatin sama lu, jangan deketin Fary, kamu denger gak sih
?” cewek penghuni kelas 102 itu menatapku. “Kalian itu beda agama, tau !
Lagi pula kalian gak cocok. Cuma gue, yang cocok sama dia, gue cantik, model,
terkenal, dan pastinya seagama sama dia. Sekali lagi lu sok alim deketin dia,
gue gak segan-segan lempar lu dari sekolah ini.”lanjutnya. dia langsung pergi
dengan mengibaskan rambutnya.
Oke,
dia cewek yang paling membosankan bagiku. Minggu lalu, dia juga datang padaku
hanya untuk mewantiku agar tidak dekat dengan Khair karena kata dia Khair itu
pacarnya. Bulan lalu juga dia di gosipkan dekat Addie, bulan lalunya lagi dia
katanya deket ama si Naliq. Bahkan, awal masuk sekolah, dia suadh men-cap Rhan
sebagai kekasihnya. Tapi, yang aku herankan, mengapa semua cowok yang dia
taksir ada di kelasku? Padahal menurutku, mereka berlima biasa saja…
Awal
bulan Februari. Sekolahku telah heboh dengan kata VALENTINE ! mereka sibuk
merencanakan kegiatan untuk valentine kali ini. Aku biasa saja. Bukannya aku
tidak menyukai Valentine, bahkan sebenarnya aku sangat ingat dengan hari itu,
karena dihari itulah aku menghirup udaranya dunia. Tapi, aku tidak suka, jika
di hari Valentine kita harus tukar kado dengan pacar. Apa tidak boleh yah
dengan sahabat?
Sahabat
? Sahabatku cuma Zhian, gadis beragama Konghucu yang duduk di sampingku dari
bangku Smp. Tapi aku yakin, dia pasti tukar kado dengan pacarnya, Kevin. Jadi,
tahun ini aku tidak akan merayakan Valentine secara special, apalagi memang itu
bukan kewajiban kan ?
Sepuluh
hari lagi, Valentine datang, berarti hari ulang tahunku juga sisa sepuluh hari
lagi. Harapanku di tahun ini, semoga aku tetap bisa mempertahankan peringkat 1
umumku hingga tamat SMA. Itulah sebabnya mengapa aku berusaha
mempertahankannya, karena dengan prestasi itu, aku bisa meraih beasiswa ke
Kanada untuk melanjutkan kuliah. Itu cita-citaku.
Jujur,
motifasi terbesarku melakukan semua ini hanya demi kedua orang tuaku. Beban
yang mereka tanggung untukku sudah sangat besar, apalagi untuk pengobatan
penyakit yang bersarang di tubuhku. Aku tak ingin memberatkan mereka untuk biaya
kuliah ku nanti.
Saat
sibuk mengerjakan tugas matematikaku, tiba-tiba penglihatanku gelap. Sakit
kepalaku kambuh lagi. Aku berusaha menahannya. Aku harus kuat. Tapi ini sangat
sakit. Aku tidak mau rumah sakit menjadi ujungnya dan kedua orang tuaku lagi
yang menanggung semuanya. Aku bahkan tidak mau mereka tahu rambutku saat ini
sudah sangat tipis karena kanker otakku ini.
Tapi
sakit ini tak mampu aku tahan. Aku tak sadar lagi. Ku pegang erat jilbabku,
seolah ingin ku buang kepalaku ini. Dan, aku pingsan, aku tak sadar apapun
sekarang. Yang terakhir ku dengar hanya suara Zhian memanggilku.
Ku
buka pelan-pelan mataku. Yang pertama kulihat ibuku, dengan matanya yang
sembab. Disampingnya ada ayahku dan kedua adikku. Mereka juga tampak sangat
sedih. Aku tak tahu ini di mana.
“Bu…”ucapku
pelan.
“Iya
sayang.. Alhamdulillah kamu udah sadar.” Ibuku langsung mengecup keningku.
“Aku
di mana Bu? Tadi aku dengar suara alunan musik yang indah. Suara apa itu bu?”
tanyaku.
“Kamu
di rumah sakit nak. Sudah tujuh hari kamu disini. Suara itu dari 5 temanmu yang
mau kamu cepat sembuh sayang, hari ini. Mereka tadi mainnya keren loh sayang.
Ada yang main piano, gitar, biola. “ ucapan Ibu membuatku kaget. Apa betul
mereka semua yang menyadarkanku?
2
hari kemudian, aku sudah boleh pulang. Ada banyak hal yang ingin ku lakukan.
Aku rindu kamarku, gumamku pelan.Esoknya, aku sudah ada di bangkuku lagi, di
samping Zhian. Zhian menyambutku dengan sangat heboh pagi ini. Dia membawakanku
sekeranjang bunga melati kesukaanku. Aku sangat sayang dia..
“Nis,
ada yang mau aku omongin sama kamu..” Zhian menatapku lembut.
“Apa,
Zhi ?” tanyaku penasaran sambil merapikan bukuku.
“Aku
tau kenapa Ken mendekati semua cowok di kelas kita. Ternyata dia itu iri sama
kamu. Dia mau seperti kamu, yang tanpa diminta 5 cowok keren sekolah kita itu
datang sama kamu. Dan yang terpenting, ternyata minggu lalu dia yang masukin
racun tikus di bakso kamu. Untung ada Fary yang liat itu, jadi dia ganti bakso
kamu. Dia juga loh yang ngancam si Ken agar gak ganggu lo. Beruntung banget
sihh kamu ..” Zhian langsung mencubit pipiku.
Aku
tertegun. Apa betul yang Zhian ucapkan? Aku masih tidak percaya….
Ini
hari valentine. Semuanya berubah menjadi pink. Ku lihat di sekelilingku di
sekolah ini, mereka sibuk dengan pasangan mereka sepulang sekolah. Aku sendiri,
karena Zhian sedang pergi dengan Kevin. Sebenarnya dia tidak mau
meninggalkanku, tapi aku yang maksa dia tuk temani Kevin.
Sepanjang
jalan ke gerbang sekolah, banyak mata yang memandangku sambil tersenyum. Banyak
juga yang ngucapin Happy birthday. Aku syukuri itu, ternyata masih banyak yang
ingat aku. Tapi kali ini, jantungku betul-betul hampir loncat.
Di
gerbang sekolah, tampak Nalqi dengan boneka beruangnya yang setinggi piggangku.
Boneka itu memegang sebuah hati dengan tulisan *happy birthday, bidadariku… Nisa*. Dia
berjalan kearahku diiringi teriakan “Terima..” dari teman-temanku. Ada apa ini
?
Belum
selesai kagetku, sebuah suara piano dari pos satpam sekolah. Tampak Khair duduk
di belakang piano itu. Dia menghampiriku dengan sebuah miniature piano yang
sangat indah bertuliskan *selamat
ulang tahun… Nisa..* dia menghampiriku dengan senyum khasnya.
Lalu,
di belakangku, Addie membawa sekeranjang bunga melati kesukaanku. Di depan
mataku, dia langsung mengukir kalimat “happy birthday..” dengan bunga melati itu. Sangat
indah, gumamku. Dia menghampiriku dengan sekotak melati bertuliskan namaku.
Belum
hilang kagetku, Rhan datang membawa coklat sebesar laptopku dengan ukiran Happy
Birthday di tengahnya. Mau ku simpan dimana coklat sebesar ini ?
Aku
pusing. Semua temanku meneriakkan nama-nama jagoan mereka, mulai dari Nalqi,
Khair, Addie, dan Rhan. Aku ingat sesuatu, tak ada Fary ! Astaga, aku tiba-tiba
ingat dia. Tapi aku tidak boleh terlalu berharap, mungkin dia memang tidak
menyukaiku. Mengapa aku justru mencarinya?
Seseorang
tiba-tiba menepuk pundakku, dan berbisik Happy Birthday. Aku berbalik. Ternyata
dia orang yang ku cari, Fary.
“Happy
birthday yah. Aku gak seromantis mereka, bisa ngasi kamu apa-apa. Aku gak
sehebat mereka, bisa ngelakuin semua demi kamu.. aku gak sekeren mereka, bisa
nembak kamu seketika di depan teman-teman. Aku Cuma bisa nurutin saran kamu,
ikuti kata hatimu. Dan kata hatiku bilang, aku gak pantas buat gadis seperti
kamu. Makasih udah ngajarin aku arti hidup.” Fary berbalik dan pergi.
“Far,
kamu kok ngomong gitu ?” Ku hampiri dia tanpa peduli tatapn teman – temanku.
“Yah,
aku jujur, sebenarnya aku yang ngasi tau mereka tanggal lahir kamu. Aku juga
yang awalnya rencanain ngucapin surprise buat kamu. Tapi semua itu di dasarkan
taruhan. Kami berlima taruhan, siapa yang bisa naklukin kamu di hari ini, bakal
di cap sebagai cowok terkeran diantara kami. Dan dia bisa jadi ketua OSIS tahun
ini.” Ucapnya. Aku syok. Jadi aku hanya barang taruhan?
“tapi
aku gak mau lakuin itu sama kamu. Kamu beda dari cewek lain yang gue kenal. Gue
sadar, gue salah kalo gue ngikutin semua ini.” Fary menatapku dengan senyumnya
yang indah. “Sekarang terserah kamu, mau milih siapa, yang pasti aku gak masuk
kategori.” Fary tertenduk. Aku tertegun.
“Kalo
aku milih kamu, boleh?” tanyaku pelan..
“Maksud
kamu?” Fary berbalik dan menghampiriku.
“Ya,
aku sadar. Sebenarnya gak ada yang pantas aku pilih selain kamu. Kamu gak
nganggap aku taruhan seperti mereka. Kamu tulus. Walaupun sebenarnya, mungkin
kita gak bakal cocok, karena agama kita beda, tapi aku milih kamu. Makasih udah
nyadarin aku tentang semua sandiwara ini.” Aku tertunduk. Aku ingin nangis. Gak
nyangka, ternyata mereka mendekatiku hanya karna taruhan.
“Kamu
serius?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk dengan air mataku.
“Makasih.
Kamu gak perlu khawatir tentang keyakinan kita, aku udah seagama denganmu.”
Lanjutnya pelan.
“Kamuu
Muslim?” tanyaku ragu..
“Yah.
Minggu lalu papaku masuk Islam saat nikah dengan mama baruku yang beragama
Islam. Aku juga ikut masuk Islam, karena kamu..” dia mendekatiku. “Ini
untukmu.. kado ini yang bisa ku berikan padamu..” Dia menyodorkan sebuah
al-qur’an kecil yang sangan indah.
“makasih..
ini kado terindahku.” Ku terima kado itu dengan tersenyum.
“Nis,
kita semua minta maaf yah, kami sadar salah ngelakuin semua. Walaupun kamu gak
milih kami, kamu tetep maukan trima kado kami?”
Rhan menyodorkan Coklatnya.
“Iya,
maksih yah. Kalian gak slah kok. Aku gak marah juga kok. Tenang..”
Ku
terima semu kado itu. Aku tak tahu harus pulang dengan apa membawa kado-kado
ini. Fary membantuku membawa kado itu ke mobilnya dan berbisik, “Kadoku kecil
yah.” Aku hanya mencubit pipinya dan masuk ke mobilnya sambil melambaikan
tangan kepada teman-temanku. Besok aku harus membantu Pak Har membersihkan
sekolah ini, gumamku.