Sabtu, 06 Oktober 2012

Melodi Valentine


Melodi Valentine
                Nisa, begitulah biasanya teman-teman memanggilku. Lengkapnya, Dewi Farnizza Queenaradha. Nama yang menurutku sangat panjang. Jam istirahat kedua di sekolahku kali ini aku isi dengan membaca novel di depan kelasku. Tampak temanku yang lainnya sibuk dengan rutinitas mereka.
                Tidak seperti sekolah lainnya, sekolahku ini dipenuhi dengan siswa dari berbagai agama, ada Islam, Kristen, Hindu, Konghucu, hingga Budha. Hanya ada 35 siswa yang beragama sepertiku, Islam. Tapi itu semua tak menyurutkan semangatku untuk tetap bergaya Islam, karena di sekolah ini, hanya aku yang memakai jilbab. Itu bukan masalah bagiku. Justru itu cirri khasku.
                Sebuah suara pianika terdengar disampingku. Segera, ku tutup novelku dan berbalik. Dan, ya.. sudah ku duga !
                “heii Nis ! Lagi sibuk yah? Ke kantin yuk..” ajak Khair, cowok sekelasku yang beragama Hindu, yang tadi memainkan pianika di sampingku.
                “Oh, iya.. makasih yah. Tapi aku udah tadi ke kantinnya.” Ku tatap papan nama yang melekat di bajunya, Khairnas Wisnu Aryapura. Nama apa lagi ini, gumamku :D
                “Oh, ya udah, aku duluan yah.. bey !” dia berlalu sambil melambaikan tangannya.
                Ku lanjutkan membaca novel di tanganku itu. Seperti biasa, ketika aku duduk sendiri seperti ini, akan ada 5 orang teman sekelasku yang berbeda agama, dan berjenis kelamin c.o.w.o.k menghampiriku.
                Dan  yang kedua datang, yaitu Fary, lengkapnya Mufaryus Christian, cowok beragama Kristen itu ketua kelasku. Selanjutnya, Rhan Ansy Ianchan, wakil Ketua kelasku yang beragama Konghuchu, lalu I Made Naliq Balika, teman sekelasku juga yang beragama Budha, dan terakhir ada si Addie Januarta Railli, yang beragama Protestan.
                Setelah mereka berlima menghampiriku, waktunya tatapan aneh dari sebagian besar temanku. Bahkan, banyak yang bilang, aku hanya bersembunyi di balik penutup kepala anehku. Dan kali ini, seperti biasa, Ken, gadis yang terkenal sebagai model di sekolahku menghampiriku. Roknya yang sejengkal diatas lutut memperlihatkan betisnya yang mulus.
                “Hey… udah berapa kali gue ingatin sama lu, jangan deketin Fary, kamu denger gak sih ?” cewek penghuni kelas 102  itu menatapku. “Kalian itu beda agama, tau ! Lagi pula kalian gak cocok. Cuma gue, yang cocok sama dia, gue cantik, model, terkenal, dan pastinya seagama sama dia. Sekali lagi lu sok alim deketin dia, gue gak segan-segan lempar lu dari sekolah ini.”lanjutnya. dia langsung pergi dengan mengibaskan rambutnya.
                Oke, dia cewek yang paling membosankan bagiku. Minggu lalu, dia juga datang padaku hanya untuk mewantiku agar tidak dekat dengan Khair karena kata dia Khair itu pacarnya. Bulan lalu juga dia di gosipkan dekat Addie, bulan lalunya lagi dia katanya deket ama si Naliq. Bahkan, awal masuk sekolah, dia suadh men-cap Rhan sebagai kekasihnya. Tapi, yang aku herankan, mengapa semua cowok yang dia taksir ada di kelasku? Padahal menurutku, mereka berlima biasa saja…
                Awal bulan Februari. Sekolahku telah heboh dengan kata VALENTINE ! mereka sibuk merencanakan kegiatan untuk valentine kali ini. Aku biasa saja. Bukannya aku tidak menyukai Valentine, bahkan sebenarnya aku sangat ingat dengan hari itu, karena dihari itulah aku menghirup udaranya dunia. Tapi, aku tidak suka, jika di hari Valentine kita harus tukar kado dengan pacar. Apa tidak boleh yah dengan sahabat?
                Sahabat ? Sahabatku cuma Zhian, gadis beragama Konghucu yang duduk di sampingku dari bangku Smp. Tapi aku yakin, dia pasti tukar kado dengan pacarnya, Kevin. Jadi, tahun ini aku tidak akan merayakan Valentine secara special, apalagi memang itu bukan kewajiban kan ?
                Sepuluh hari lagi, Valentine datang, berarti hari ulang tahunku juga sisa sepuluh hari lagi. Harapanku di tahun ini, semoga aku tetap bisa mempertahankan peringkat 1 umumku hingga tamat SMA. Itulah sebabnya mengapa aku berusaha mempertahankannya, karena dengan prestasi itu, aku bisa meraih beasiswa ke Kanada untuk melanjutkan kuliah. Itu cita-citaku.
                Jujur, motifasi terbesarku melakukan semua ini hanya demi kedua orang tuaku. Beban yang mereka tanggung untukku sudah sangat besar, apalagi untuk pengobatan penyakit yang bersarang di tubuhku. Aku tak ingin memberatkan mereka untuk biaya kuliah ku  nanti.
                Saat sibuk mengerjakan tugas matematikaku, tiba-tiba penglihatanku gelap. Sakit kepalaku kambuh lagi. Aku berusaha menahannya. Aku harus kuat. Tapi ini sangat sakit. Aku tidak mau rumah sakit menjadi ujungnya dan kedua orang tuaku lagi yang menanggung semuanya. Aku bahkan tidak mau mereka tahu rambutku saat ini sudah sangat tipis karena kanker otakku ini.
                Tapi sakit ini tak mampu aku tahan. Aku tak sadar lagi. Ku pegang erat jilbabku, seolah ingin ku buang kepalaku ini. Dan, aku pingsan, aku tak sadar apapun sekarang. Yang terakhir ku dengar hanya suara Zhian memanggilku.
                Ku buka pelan-pelan mataku. Yang pertama kulihat ibuku, dengan matanya yang sembab. Disampingnya ada ayahku dan kedua adikku. Mereka juga tampak sangat sedih. Aku tak tahu ini di mana.
                “Bu…”ucapku pelan.
                “Iya sayang.. Alhamdulillah kamu udah sadar.” Ibuku langsung mengecup keningku.
                “Aku di mana Bu? Tadi aku dengar suara alunan musik yang indah. Suara apa itu bu?” tanyaku.
                “Kamu di rumah sakit nak. Sudah tujuh hari kamu disini. Suara itu dari 5 temanmu yang mau kamu cepat sembuh sayang, hari ini. Mereka tadi mainnya keren loh sayang. Ada yang main piano, gitar, biola. “ ucapan Ibu membuatku kaget. Apa betul mereka semua yang menyadarkanku?
                2 hari kemudian, aku sudah boleh pulang. Ada banyak hal yang ingin ku lakukan. Aku rindu kamarku, gumamku pelan.Esoknya, aku sudah ada di bangkuku lagi, di samping Zhian. Zhian menyambutku dengan sangat heboh pagi ini. Dia membawakanku sekeranjang bunga melati kesukaanku. Aku sangat sayang dia..
                “Nis, ada yang mau aku omongin sama kamu..” Zhian menatapku lembut.
                “Apa, Zhi ?” tanyaku penasaran sambil merapikan bukuku.
                “Aku tau kenapa Ken mendekati semua cowok di kelas kita. Ternyata dia itu iri sama kamu. Dia mau seperti kamu, yang tanpa diminta 5 cowok keren sekolah kita itu datang sama kamu. Dan yang terpenting, ternyata minggu lalu dia yang masukin racun tikus di bakso kamu. Untung ada Fary yang liat itu, jadi dia ganti bakso kamu. Dia juga loh yang ngancam si Ken agar gak ganggu lo. Beruntung banget sihh kamu ..” Zhian langsung mencubit pipiku.
                Aku tertegun. Apa betul yang Zhian ucapkan? Aku masih tidak percaya….
                Ini hari valentine. Semuanya berubah menjadi pink. Ku lihat di sekelilingku di sekolah ini, mereka sibuk dengan pasangan mereka sepulang sekolah. Aku sendiri, karena Zhian sedang pergi dengan Kevin. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkanku, tapi aku yang maksa dia tuk temani Kevin.
                Sepanjang jalan ke gerbang sekolah, banyak mata yang memandangku sambil tersenyum. Banyak juga yang ngucapin Happy birthday. Aku syukuri itu, ternyata masih banyak yang ingat aku. Tapi kali ini, jantungku betul-betul hampir loncat.
                Di gerbang sekolah, tampak Nalqi dengan boneka beruangnya yang setinggi piggangku. Boneka itu memegang sebuah hati dengan tulisan *happy birthday, bidadariku… Nisa*. Dia berjalan kearahku diiringi teriakan “Terima..” dari teman-temanku. Ada apa ini ?
                Belum selesai kagetku, sebuah suara piano dari pos satpam sekolah. Tampak Khair duduk di belakang piano itu. Dia menghampiriku dengan sebuah miniature piano yang sangat indah bertuliskan *selamat ulang tahun… Nisa..* dia menghampiriku dengan senyum khasnya.
                Lalu, di belakangku, Addie membawa sekeranjang bunga melati kesukaanku. Di depan mataku, dia langsung mengukir kalimat “happy birthday..” dengan bunga melati itu. Sangat indah, gumamku. Dia menghampiriku dengan sekotak melati bertuliskan namaku.
                Belum hilang kagetku, Rhan datang membawa coklat sebesar laptopku dengan ukiran Happy Birthday di tengahnya. Mau ku simpan dimana coklat sebesar ini ?
                Aku pusing. Semua temanku meneriakkan nama-nama jagoan mereka, mulai dari Nalqi, Khair, Addie, dan Rhan. Aku ingat sesuatu, tak ada Fary ! Astaga, aku tiba-tiba ingat dia. Tapi aku tidak boleh terlalu berharap, mungkin dia memang tidak menyukaiku. Mengapa aku justru mencarinya?
                Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku, dan berbisik Happy Birthday. Aku berbalik. Ternyata dia orang yang ku cari, Fary.
                “Happy birthday yah. Aku gak seromantis mereka, bisa ngasi kamu apa-apa. Aku gak sehebat mereka, bisa ngelakuin semua demi kamu.. aku gak sekeren mereka, bisa nembak kamu seketika di depan teman-teman. Aku Cuma bisa nurutin saran kamu, ikuti kata hatimu. Dan kata hatiku bilang, aku gak pantas buat gadis seperti kamu. Makasih udah ngajarin aku arti hidup.” Fary berbalik dan pergi.
                “Far, kamu kok ngomong gitu ?” Ku hampiri dia tanpa peduli tatapn teman – temanku.
                “Yah, aku jujur, sebenarnya aku yang ngasi tau mereka tanggal lahir kamu. Aku juga yang awalnya rencanain ngucapin surprise buat kamu. Tapi semua itu di dasarkan taruhan. Kami berlima taruhan, siapa yang bisa naklukin kamu di hari ini, bakal di cap sebagai cowok terkeran diantara kami. Dan dia bisa jadi ketua OSIS tahun ini.” Ucapnya. Aku syok. Jadi aku hanya barang taruhan?
                “tapi aku gak mau lakuin itu sama kamu. Kamu beda dari cewek lain yang gue kenal. Gue sadar, gue salah kalo gue ngikutin semua ini.” Fary menatapku dengan senyumnya yang indah. “Sekarang terserah kamu, mau milih siapa, yang pasti aku gak masuk kategori.” Fary tertenduk. Aku tertegun.
                “Kalo aku milih kamu, boleh?” tanyaku pelan..
                “Maksud kamu?” Fary berbalik dan menghampiriku.
                “Ya, aku sadar. Sebenarnya gak ada yang pantas aku pilih selain kamu. Kamu gak nganggap aku taruhan seperti mereka. Kamu tulus. Walaupun sebenarnya, mungkin kita gak bakal cocok, karena agama kita beda, tapi aku milih kamu. Makasih udah nyadarin aku tentang semua sandiwara ini.” Aku tertunduk. Aku ingin nangis. Gak nyangka, ternyata mereka mendekatiku hanya karna taruhan.
                “Kamu serius?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk dengan air mataku.
                “Makasih. Kamu gak perlu khawatir tentang keyakinan kita, aku udah seagama denganmu.” Lanjutnya pelan.
                “Kamuu Muslim?” tanyaku ragu..
                “Yah. Minggu lalu papaku masuk Islam saat nikah dengan mama baruku yang beragama Islam. Aku juga ikut masuk Islam, karena kamu..” dia mendekatiku. “Ini untukmu.. kado ini yang bisa ku berikan padamu..” Dia menyodorkan sebuah al-qur’an kecil yang sangan indah.
                “makasih.. ini kado terindahku.” Ku terima kado itu dengan tersenyum.
                “Nis, kita semua minta maaf yah, kami sadar salah ngelakuin semua. Walaupun kamu gak milih kami, kamu tetep maukan trima kado kami?”  Rhan menyodorkan Coklatnya.
                “Iya, maksih yah. Kalian gak slah kok. Aku gak marah juga kok. Tenang..”
                Ku terima semu kado itu. Aku tak tahu harus pulang dengan apa membawa kado-kado ini. Fary membantuku membawa kado itu ke mobilnya dan berbisik, “Kadoku kecil yah.” Aku hanya mencubit pipinya dan masuk ke mobilnya sambil melambaikan tangan kepada teman-temanku. Besok aku harus membantu Pak Har membersihkan sekolah ini, gumamku.









Senin, 01 Oktober 2012

cerpen Mantan terindah


Mantan terindah…
            Sepulang sekolah, aku sangat bersemangat. Rasanya aku ingin terbang ! Bebas ! entah mengapa, aku sendiri tak tahu, yang jelas aku merasa nyaman saja.
            Di rumah, aku tetap menyimpan keceriaanku itu. Semua tugasku hari ini dapat ku selesaikan dengan sangat baik. Sempurna ! selanjutnya, tanpa membuang banyak waktu, aku segera mandi. Sore ini, aku ingin berkelana dengan motorku. Yeah, ini menyenangkan !.
            Sore ini, udara cukup bersahabat. Banyak juga yang sibuk sepertiku, mungkin mereka juga mau membuang penat. Hanya beberapa orang saja yang aku kenal. Kebanyakan mereka dengan pacarnya, sedang aku sendiri. Kak Rey sedang sibuk sore ini. Memang dia berniat menemaniku, tapi aku melarangnya, karena dia sibuk.
            Karena keasyikan menghaya,tanpa sadar motorku hampir menambrak motor di depanku. Untungnya jalan itu sepi, dan tak banyak yang memperhatikan kami.
            “Hati-hati dong bawa motornya..” cowok itu berbalik, dan melepas helmnya. “Kamu tidak papa kan?” lanjutnya menghampiriku.
            “Eh, iya.. aku gak papa kok ?” kataku sambil melepas kaca helmku..
            “Eh, kamu ! Kamu kenapa, kok ngelamun bawa motornya?” cowok itu, yang tak lain adalah Hary, tersenyum menatapku.
            “Gak, aku lagi gak konsen aja. Abis darimana kamu?” aku agak canggung menatap matanya. Aku hanya tertunduk. Aroma farfum yang sangat ku hafal itu memenuhi tubuhnya.
            “Aku dari rumah temen nih. Eh, kamu sendiri aja? Pacar kamu mana nih..?” dia tersenyum jahil menatapku.
            “Ah kamu ! Dia sih tadi mau ikut, tapi dia lagi ada kerjaan, jadinya aku sendiri aja.”
            “Eh, kita duduk di sana yuk, aku mau cerita nih ma kamu. Boleh gak?” dia menunjuk sebuah bangku taman di dekat penjual es krim.
            “Oh, iya… tapi pacar kamu gak marah kan?”
            “Gak, itu yang mau aku cerita. Tapi Kak Rey gak marah kan? Boleh aku minta nomor hapenya gak? Aku mau minta ijin dulu sama dia, mau minjem istrinya. Hehe..” dia kembali tersenyum dan memakai helmnya.
            “Gak, gak perlu. Yaudah, kamu duluan yah..” aku pun mengikutinya.
            Hary menghampiriku dengan 2 es krim coklat kesukaanku di tangannya. Satu buat aku, pasti ! :D
            “Kamu masih hafal yah es krim kesukaanku.”ku tatap dia tersenyum.
            “Jelas dong. Dulu kan kalo kamu ngambek, paling juga diamnya ama es krim, kalo buka yah donat.” Hary lalu duduk di sampingku. Ku nikmati es krim di tanganku. Lama, kami sibuk dengan fikiran sendiri.
            “Tysa, pacar aku sekarang ternyata cuma mainin aku.” Ucapnya tiba-tiba. “aku boleh curhat kan?” lanjutnya.
            “Yah, kenapa tidak?”
            “Ternyata dia Cuma deketin aku, kerana pacarnya lagi keluar kota, jadi dia butuh seseorang untuk nganter-nganter dia, beliin ini itu. Pokoknya dia maksa aku lakuin semuanya.” Dia tertunduk.
            “Kamu lakuin semua?” tanyaku penasaran.
            “Yah, karena aku baru bisa buka hati buat seorang cewek setelah 3 bulan lupain kamu. Karna itu, aku berusaha numpahin semua sayang aku buat dia, bahkan 2 kali lebih besar dari kamu. Aku turutin semuanya. Karna aku berharap cukup dia yang terakhir. Aku gak mau kayak waktu sama kamu dulu, semua berakhir karena egoisnya aku.” curhatnya.
            “Kamu tau dari mana kalo dia mainin kamu?”
            “Dia yang bilang sendiri. Minggu lalu, dia yang datang ke aku. Dia bilang, dia mau putus, dia cerita kalo dia Cuma mainin aku. Dia mau lagi balik sama pacarnya, karna pacarnya udah pulang. Dia juga bilang, gak mungkin beneran suka sama aku, karena aku masih kecil. Ya, memang dia 3 tahun lebih tua dari aku, dia udah kuliah, aku masih kelas 2 SMA. Itulah bodohnya aku…” dia tertunduk, seolah ada sesuatu yang dia cari.
            “Gak, kamu gak bodoh. Itu wajar aja, kalo kamu sayang sama dia, karna takut semua terulang. Aku ngerti kok. Kamu gak perlu mikirin dia lagi. Coba deh kamu buka hati kamu, coba hapus dia, janji gak bakal sebodoh itu lagi, dan liat, banyakkan yang lebih baik dari dia?” ke tatap matanya. Dia sedikit tersenyum.
            “Aku bisa ngelakuin itu, sangat mudah! Tapi, masih ada nama orang lain di hatiku, gak bisa aku hapus. Itu kebodohan aku, karena melepasmu dulu…” dia menatapku, dalam. Aku tertunduk. Aku langsung teringat Kak Rey. “Aku boleh nungguin kamu, ? Aku gak minta kamu putus sama dia, tapi aku Cuma mau nyembuhin sakit aku dulu. Ntar kalo kamu udah gak sama Kak Rey lagi, kamu siap balik sama aku?” lanjutnya. Ucapannya kali seolah membunuhku.
            “Gak, aku gak bisa lakuin itu. Aku udah janji, aku milih Kak Rey, dan cukup dia. Aku minta maaf, aku gak bisa.” Ku letakkan es krim itu di bangku taman dan berdiri. Tiba-tiba seseorang telah berdiri di hadapanku.
            “Kamu gak usah mikirin aku dek. Kalo kamu memang masih mau sama dia, kakak gak papa kok..” Kak Rey memegang bahuku dan menatapku tersenyum.
            “Kakak apa-apaan sih? Kakak gak ingat janji kita? Aku gak mau kak, aku gak punya rasa lagi sama Hary, dia Cuma mantan !” Suaraku kini serak.
            “dia mantan, tapi masih ada di hati kamu dek.. Kakak ikhlas kok dek..”
            “Gak ! Gak! Kakak ternyata gak serius sama aku, jadi mau lepasin aku gitu aja. Kakak gak ingat janji kita?” Ku lepas tangannya di bahuku.
            “Aku ingat dek, aku ingat. Tapi kakak gak bakal tega liat kamu Cuma mendam rasa sama dia. Kalo kamu udah bisa dengan dia dek, kakak akan bahagia, karna kamu bahagia..” Kak Rey berbalik dan pergi.
            “Gak.. ada ada yang boleh pergi. Aku gak sayang Hary. Terserah kakak percaya atau tidak. Sebelum kakak sendiri yang datang ke sini, aku gak akan pulang. Biar aku bisa buktiin sama kakak, gak ada yang penting dari kakak.” Ku tutup kedua mataku dan air mataku jatuh.
            “Rey, kamu gak perlu jadi orang bodoh karna ninggalin Tysa. Cukup aku aja yang bodoh karna egoku. Aku minta maaf, karna udah ganggu hubungan kalian. Aku janji, demi Tysa, aku gak bakal deket lagi sama dia, supaya kalian bisa bersatu. Terlalu bodoh jika aku membiarkan Tysa sakit lagi.” Hary menghampiri Rey dan menepuk pundaknya. Dia lalu mengambil motornya dan pergi.
            Aku tetap di tempatku, tak bergerak sedikitpu, kecuali untuk memukul semut yang ada di kaki ku tadi. Kak Rey menghampiriku. Dia diam, hanya berdiri 2 jengkal di hadapanku.
            “Aku minta maaf dek. Betul kata Hary, terlalu bodoh untuk melepasmu. Kakak sadar, salah karna udah gak percaya sama kamu. Kamu baik dek, terlalu baik untuk dilepas. Maafin kakak, karna setiap masalah yang ada diantara kita, selalu hanya karna kecemburuan kakak. Kamu mau maafin kakak.?” Tanyanya sambil menatapku lembut.
            “Asal kakak mau janji, jangan pernah cemburu berlebihan. Gak boleh ada yang pergi. Ingat itu kak..” ku acungkan jari kelingkingku kehadapannya. Dia menyambutnya dengan kelingkin kanannya yang dikaitkan dengan kelingkingku. Inilah simbol setiap kami mampu menyelesaikan setiap masalah. Kelingking yang gak akan lelah menyatukan kita.
            Ku lirik seseorang di ujung taman tersenyum menatap kami. Dia, mantanku, mantanku yang baik.  Akan ku kenang dia sebagai sebuah pelajaran berharga untuk hubunganku dan Kak Rey. Semoga kamu dapat yang terbaik mantanku. Karna, kamu gak perlu selalu sakit hanya karna cintamu…




[2 February 2011]
           

cerpen Seribu tahun Untukmu


Seribu tahun untukmu
                Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan angka 22.09. namun mataku belum mampu ku pejamkan. Sedari tadi aku memilih duduk di depan layar komputerku. Kebetulan baru saja laptopku lowbat, sehingga aku memutuskan mengutak-atik kompi ini. Sebenarnya aku tidak mengutak-atik, namun justru sibuk memperhatikan foto seseorang.
                Ingatanku kembali pada kejadian setahun lalu, sebelum orang yang ada di dalam foto itu tak dapat lagi ku temui.Setahun yang lalu, sebelum nasib membawanya ke kehidupan yang penuh glamour dan kesempurnaan. Setahun yang lalu, sebelum dia memutuskan pergi, dan aku hanya bisa mengiyakan keinginannya itu.
                “gue mau rebut mimpi gue, gue yakin bakal pulang kok. Gak bakal ada yang pisahin kita. Lo tetep satu buat gue. Gue butuh doa lu..” ujarnya. Saat itu suasana betul-betul syahdu, angin sepoi-sepoi menyapu jilbabku di pinggir danau kecil di belakang rumahku.
                “Ga papa, lu pergi aja, ga usah berat gitu.” Ujarku. Rasanya aku ingin menangis, namun ku tahan. “doa gue ada buat lu..selalu” lanjutku.
                “Makasih.. gue sayang sama lu. Tungguin gue yah, gue harap lu mau tetep nungguin gue.”katanya lagi, lalu menatapku. Aku tak bisa menjawab apapun, aku sedang berusaha melawan hatiku yang ingin menangis. Jujur, ingin rasanya ku peluk dia, erat.Namun itu tak mungkin, aku tahu itu salah. Aku hanya bisa berdiri mematung di depannya.
                Air mataku seketika berhamburan.Tak ada yang mampu mendengarnya, karna itu hanya isak kecil. Malam ini semuanya sudah tidur, sehingga aku bebas mengekspresikan air mataku yang dulu tak sempat ku keluarkan.Tuhan, betapa lama tak ku temukan dia. Tak dapat lagi ku lihat candanya, senyumnya yang asli.Semua kini hanya dapat ku lihat di tivi.Dia telah merebut mimpinya, memiliki boyband.Itu mimpinya dari dulu, sudah ku tahu.Dan kini, aku memang harus menerima kenyataan, hanya bisa melihatnya di tivi.
                Sebenarnya, awal dia ke Jakarta kami masih sering telpon-telponan.Namun ternyata itu hanya sementara.Ketika Boybandnnya mulai terkenal, dia perlahan menghapus bayanganku.Semenjak 8 bulan yang lalu, tak ku dapat lagi 1 pun smsnya. Apalagi sekarang, ku yakin blackberry telah menjadi pegangannya, sehingga aku semakin sulit menghubunginya. Tapi biarlah, mungkin memang aku hanya seperti seorang fans di mata dia.
                Pagi hari, setelah shalat subuh, ku coba menata hatiku.Setelah semalam mataku mengeluarkan cukup banyak cairan, kini mataku tampak bengkak. Sangat lucu memang jika aku habis menangis, pipiku tampak naik dan tembem, bibirku dower, dan mataku sipit bin gembul. Ibuku sempat syok melihat keadaanku ini, namun aku hanya bilang “Semalam sakit perutku kumat bu, jadinya nangis bombastis deh sendirian”.Ku tahu ibu tak percaya, tapi biarlah.
                “Wah, BLASTBOY bakal tampil diacara sekolah kita..” cerocos Dian saat aku sampai di kelas. Ku lihat suasana kelas mulai gaduh, dan tema pembicaraan mereka satu “BB mau nongol di sini!”
                “Oh yah? Asik tuh..” jawabku sok asik. Biarlah.Ku tahu, tak ada yang tahu siapa sebenarnya salah satu dari personil boyband itu bagiku.
                “Berarti ada abang Kifly yah! Haseekk..” sorak dian, sangat heboh, tepat disebelah kupingku.
                “Iya, abang Kifly lu ada kok, tenang! Bukan beebe namanya kalo abang lu kaga ada, kaga ada yang bakal joget poco-poco kalo abang lu kaga ada..” jawabku asal dan memilih duduk sambil merapikan jilbabku. Tak ku pedulikan Dian yang memasang tampang manyunnya.
                Hatiku bersorak.Rasanya seperti mimpi.Setelah semalam ku tumpahkan air mataku untuknya, sebentar lagi aku bisa bertemu dengannya.Semenjak aku pindah ke Depok, memang sudah sangat minim informasi yang ku temukan tentang dia. Seandainya aku masih di sekolahku yang lama, tentu aku masih bisa sering-sering melihat wajahnya. Namun ku syukuri bisa berada di sekolahku yang baru ini, karena aku bisa kenal dengan seorang DIAN, yang tak lain adalah satu dari sekian lovklies, fans-fansnya Kifly, dan dari Dianlah ku dapat banyak info tentang Kifly, termasuk tentang hubungannya kini dengan artis-artis yang jelas jauh lebih sempurna dariku, dan juga hubungannya dengan artis muda yang sedang naik daun itu.
                Dan hari itu pun tiba. Aku dan Dian yang tak memiliki jabatan di kepanitiaan acara sekolah ini, karena bukan mahluk eksis, hanya bisa menjadi penonton sejati. Tapi tak mengapa, demi bisa melihat wajahnya, aku ikhlas menemani Dian hilir-mudik mencari tempat yang pas untuk menyaksikan BLASTBOY di panggung.
                Tempat yang di pilih Dian memang betul-betul pas dari segala arah. Dari tempat ini, dengan jelas dapat ku lihat satu persatu member BLASTBOY turun dari mobil. Suasana sekolah mulai gaduh, bahkan sangat gaduh. Walau tak terlalu jelas, namun bisa ku lihat sosok seseorang yang ku yakini dia. Dia, masih dengan tubuh mungilnya.Bibirnya masih seimut dulu, dan meskipun memakai kacamata selebar itu, namun tulang pipinya masih sangat ku hapal.Itulah dia, Dewa Alvino Zulkifly!
                Saat ini prasaanku campur aduk.Ingin ku menangis karena bisa melihatnya lagi, namun ingin pula ku menangis karena tak berarti lagi dimatanya. Intinya aku hanya ingin menangis. Sudahlah, aku memang bukan siapa-siapanya.Aku hanya bisa melihatnya dari tempatku kini. Aku tak bisa mengikuti yang lainnya, yang sibuk mengikuti BLASTBOY bernyanyi dan berjoget di panggung. Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku, biarkan aku menata hatiku dulu. Arkkh!
                Setelah single pertamanya selesai, Dian lalu mengajakku ke ruang panitia.Dia yang memiliki cukup banyak teman di ruang panitia itu akhirnya dengan bebas dapat masuk ke ruangan itu, dan bertemu langsung dengan 7 cowok member BB  bak malaikat itu. Aku hanya mengekor di belakang Dian.
                “Dian! Sini! Ini Kifly loh.. Sini” Sorak Reva, sambil melambaikan tangannya ke arahku dan Dian, yang sedari tadi mencari abang Kiflynya itu.
                “Wuaaahhh, ini Kifly?Serius? Wuah..ini Kifly. Manis yah, manis yah..”Dian sangat histeris.Wajarlah.Namun, jika aku bisa mengeluarkan semua isi hatiku, aku bisa jauh lebih histeris darinya.
                “Iya, saya Kifly.”Jawab cowok itu polos, sambil melap wajahnya.Keringat tampak sangat jelas di wajahnya.
                “Gue lovklies loh, fans banget sama loe. Abis, loe itu diciptain ama tuhan kok manis banget sih..”Dian tampak berseri-seri, penuh semangat.
                “Ah, biasa aja kali.Gak usah fanatic gitu ah, gue Cuma manusia biasa kok. Coba gue ga di BB, ga bakal lu puja kayak gini juga kan..hehe..” tutur Kifly. Dia sempat melirik ke arahku.
                “Oh iya yah. Tapi kalo foto bareng boleh dong..”Dina lalu mengulurkan hapenya padaku, tanpa menunggu persetujuan dari Kifly. Aku hanya bisa menurutinya.
                Saat memengang hape Dian, tiba-tiba hapeku pun berbunyi.Segera ku keluarkan dari saku bajuku. Hanya sebuah sms, itu pun juga dari ibu, nitip apel yang di dekat sekolahku. Dasar yah, ibu-ibu maunya itu aneh-aneh.Katanya, apel dekat sekolahku itu apel termanis di dunia. *plakk
                “tunggu, jangan bilang gue kenal lu dan boneka ini.”Kifly tiba-tiba memegang boneka yang ada di gantungan hapeku. Aku gugup.Ya Allah, mengapa dia mesti melihat boneka ini?
                “Oh, nggak kok. Kamu salah kali..” jawabku lalu memasukkan hapku ke saku bajuku lagi.
                “Nggak, gue kenal sama lu. Lu Tiani kan?” dia menatapku dalam.Aku semakin gugup.
                “Bukan, gue bukan Tiani, gue Nita..” bantahku. Tiba-tiba saja rasanya aku ingin menangis.
                “Iya, Stianita Dewi Pratiwi. Gue Kifly, loe lupa gue?” katanya sambil memegang pundakku. Segera ku tepis kedua tangannya.
                “Bukan! Gue gak kenal loe! Loe gak kenal gue! Kita gak saling kenal.”Ku kembalikan hape Dian lalu kembali ke kelasku.Ya Allah, aku ingin bilang iya, iya, gue Stianita Dewi Pratiwi, gue kenal loe, kenal banget.Tapi itu tak mungkin.Terlalu bodoh rasanya ketika harus mengakui semuanya disaat seperti ini. Yang ada di pikiranku sekarang, aku harus segera sampai di kelas, tanpa mempedulikan sekelilingku.
                Ini bukan sinetron, karena kifly tak mengejarku seperti di sinetron-sinetron. Aku sudah tahu diri kok. Pasti dia jauh lebih mementingkan honornya dibanding mengejarku dan meninggalkan panggung itu.Dari kelasku, masih jelas ku dengar suara boyband itu bernyanyi di tengah-tengah suara riuh-rendah orang-orang yang memujanya.
                Beberapa menit berlalu, aku baru sadar tak ku dengar lagi suara BLASTBOY bernyanyi, hanya suara beberapa orang siswa yang bergantian menyumbangkan lagu.Mungkin boyband itu sudah pulang, pikirku.Setelah menenangkan hati, pikiran, jiwa, raga, lambung, jantung (Haduh, lebayyy), akhirnya aku memutuskan meninggalkan kelasku.
                Baru selangkah kulangkahkan kakiku dari bangkuku, pintu kelasku tiba-tiba terbuka. Jika yang datang itu malaikat, tentu aku akan segera menutup mata karena silaunya cahaya malaikat itu. Namun yang datang ternyata : KIFLY pemirsa! Aku hanya bisa berbalik dan kembali duduk di bangkuku, berharap bangkuku memiliki jimat ajaib, sehingga dia tak dapat melihatku ketika aku duduk di bangkuku.
                Namun itu hanya mimpi. Justru dia semakin mendekat.
                “Napa lu ngindar? Lu udah gak mau kenal gue?Udah lupa sama gue?” ujarnya.
                Aku tak menjawab apa-apa, hanya sibuk kupandangi dirinya yang duduk di bangku di depanku.
                “jawab! Jadi gini respon lu setelah lama gak ketemu gue. Gue kangen sama lu. Oh, mungkin lu udah dapat ganti gue. Sori kalo lu udah ga tahan nunggu gue lama.” Emosi yang campur aduk terpancar dari wajahnya.
                “pengganti? Gue masih sendiri, seperti yang lu liat. Gue.. sampai sekarang.. masih nunggu seorang..seorang yang ternyata udah dapat bidadari.” Ujarku terbata. “selamat yah..” lanjutku.
                “Ga, loe salah paham. Gue masih sayang sama lu, mana bisa gue cari ganti lu. Itu semua gosip. Ngertiin posisi gue, gue public figure.” Jelasnya.
                “Gue ngerti. Saking ngertinya gue, gue sabar kok setiap kali mention gue gak lu balas, inbox gue lu delete, sms gue lu kacangin. Gue ngerti, lu sibuk manggung sana-sini. Gue ngerti lu dikelilingin banyak bidadari. Gue ngerti, gue ngerti hidup lu. Makanya, karena gue ngerti, gue gak bakal sentuh hidup lu. Anggap kita gak pernah kenal. Anggap gue fans lu juga ga papa. Anggap gue masa lalu, udah cukup buat gue. Ga usah peduliin janji lo dulu, anggap aja gak ada..”jawabku datar, sedatar hatiku saat ini.
                Suasana hening.Dia diam, aku pun diam. Ingin rasanya segera pergi, namun kakiku seolah berat untuk ku angkat.Ku biarkan dia yang sibuk menunduk.Ku buang perhatianku ke sepatuku, berharap ada pintu ajaib di sepatuku dan aku bisa segera meninggalkan cowok ini.
                “Gue salah, gue minta maaf.” Dia pindah posisi, dan duduk di mejaku. Aku memilih menunduk. Sekilas ku lihat matanya sedikit sembab. “ga ada yang salah, ga ada yang perlu dimaafin.” Ujarku lirih.
                “mau lu sekarang apa? Gue bakal nurutin, sebagai tanda betapa besukurnya gue bisa ketemu lu lagi. Gue pengen kita kayak dulu. Main bareng, belajar bareng, ngambek-ngambekan, foto bareng, jalan.Gue mau semua itu. Gue bakal ada waktu buat lu.” Ucapannya membuatku semakin mengenang masa lalu kami.
                “Gak perlu. Cukup lu lupain gue, jalani idup lu. Kita sekarang udah beda. Lu itu bintang, ga bakal ada yang nginjak, malah di puja. Dan, gue Cuma asteroid, ga ada pengaruh, tanpa ngitung gue, jarak matahari ke neptunus juga udah bisa di tau kok.” Jawabku datar. Ini suara hati. “sayangi pacar lu yang sekarang yah, dia cantik, serasi banget sama lu.”
                “lu tega banget sih sama gue, gue gak bisa begini. Gue butuh lu. Lu udah ngancurin prasaan gue. Selama ini gue cari lu, yang gue dapat Cuma pengusiran doang dari lu? Ga sekalian aja lu tampar gue di depan umum.” Dia lalu berdiri di sampingku. Emosi mulai merambah otaknya.
                “Tapi kita beda, Wer, kita beda..” tanpa sengaja penggilan ku ke dia, si Dower, ku ucapkan.
                “Beda apanya sih? Gue begini juga karna ijin lu. Apa perlu gue lepasin semuanya, biar bisa sama lu?” suaranya mulai meninggi.
                “Ga, ga usah. Jalani aja idup lu. Gue udah gak bisa ganggu dan ada di idup lu lagi, udah ada yang ngisi posisi gue, yang jauh lebih sempurna.” Aku berdiri dan meraih tasku. “Jaga dia, jaga diri lu juga.” Aku pun melangkahkan kakiku.
                “ Maafin gue, maafin gue, Sti!” aku berhenti. Baru kali ini ku dengar dia membentakku.
                “ya udah, gue bakal jagain dia, asal lu mau janji, tungguin gue lagi. Kedua kalinya aja. Gue janji, bentar aja gue bakal ga sama dia, bahkan kalo lu mau sekarang juga gue bisa.” Suaranya ku dengar penuh isak. Inilah suaranya yang dulu, ketika dia ngambek di depanku.
                “Ga usah. Gue gak mau rusak hati dia. Cukup gue aja yang sakit.” Aku lalu berbalik dan menghampirinya. Ku beranikan diri menatap matanya. “Kalo kita jodoh, kita bakal satu lagi kok. Lu tenang aja, gue punya seribu taun waktu buat nungguin lu..”aku berusaha menguatkan diriku, karena ku tahu, semakin dia melihatku lemah, justru dia yang akan semakin lemah.
                “gue mau peluk lu, plis, sekali aja. Anggap sebagai tanda kita jodoh.” Tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung memelukku. Ku tahan hatiku agar tak hanyut dalam suasana ini, namun aku tak mampu, aku justru semakin ingin menangis.
                “udah ah, lu pulang gih. Teman-teman lu udah pada nungguin lu tuh..”ku lepaskan pelukannya, meskipun berat. “Muka lu jelek tau kalo udah nangis, bibir lu makin dower” candaku. Ku sapu air matanya denga ujung jilbabku.
                “mending dower, daripada lu, makin sipit matanya, gak bisa liat gue. Week..” balasnya sambil tersenyum. “Anterin gue ke bawah ya..” dia lalu memegang tanganku dan menuju ke pintu.
                Ya Allah, penonton membludak di pintu! Tanpa kami sadari, ternyata pintu kelas sudah terbuka lebar, bahkan beberapa siswa duduk di bangku barisan dekat pintu, termasuk member BLASTBOY. Aku malu.Mukaku seketika pucat. Ku lirik Kifly, dia jauh lebih syok.
                “Dramanya keren yah, lanjut dong..” ujar seseorang, yang kuyakini bernama Devan, slah satu personil BB yang paling jao ngedance.
                “Oh, jadi ini yah cewek yang dulu lu certain ke gue…” ku yakin, itu Rian.
                “Kisah lu bikin mewek nih…” dan aku yakin itu suara Ardi, Member BB yang paling putih.
                “Astaga, Ti, jadi lu ada apa-apa sama abang gue? Pantes setiap gue cerita soal dia, lu kayak udah tau duluan, eh ga taunya dia tiiit lu yah..”kali ini Dian dengan suaranya yang cukup nyaring menghampiriku.
                “Ah, apa-apan sih?Ga ah, kita temen kok.”Ku lirik Kifly.“Udah, lu pulang gih, ntar pamor lu turun lagi kalo kelamaan deket gue.”Sebuah senyum ku berikan untuknya.
                “Ya udah, gue pulang deh.Tapi kalo pamor gue naik karna ini, lu mesti sama gue yah..”ujarnya lalu menarik hidungku, kebiasaannnya dari dulu. “bey, jaga diri lu yah.” Lanjutnya. Setelah di beri jalan, akhirnya dia berhasil keluar kelasku diikuti dengan teman-temannya.
                Ku lihat dia dari kelasku. Dia sudah hendak pergi. Dia masih sempat berbalik ke arahku sebelum memutuskan untuk masuk ke mobilnya.
                “Tungguin gue yah…” teriaknya. Meski samar-samar, namun masih dapat ku dengar suaranya.
                Ya, aku akan selalu ada, menunggumu. Walau semuanya mungkin kembali seperti ini lagi, tapi aku punya seribu tahun untuk selalu menunggumu, selalu. Inilah cinta, membutakan semuanya!




Stiianita_dmp 17.oktober 2011,
00.11 malam.