ini cerpen hasil tangan gw sendiri :)
Sayang
untuk Kakak J
Kata
orang, punya saudara itu, khususnya kakak, sangat menyenangkan. Ada yang bisa
membantu dan mengajari kita sesuatu, apalagi jika kakak itu sejenis dengan
kita. Namun mungkin aku termasuk dari beberapa orang yang jelas membantah
argument tersebut. Aku memiliki kakak, yang sama-sama cewek, yang minta ampun
menyebalkannya.!
Usiaku
dengannnya hanya beda 2 tahun. Secara fisik aku jauh lebih tinggi darinya 2 cm,
walaupun ukuran badan kami tak jauh berbeda. Bahkan, beberapa orang menganggap
kami mirip, yang membuat telingaku terasa gatal. Aku tidak suka ungkapan itu.
Hampir
setiap hari rumahku terasa panas saat kami bertemu. Mama sudah bosan dengan
tingkah kami. Papa sudah sangat tidak mau ambil pusing. Aku pun sebenarnya
capek dengan semuanya, namun entah mengapa saat menatap dia rasa jengkel
merasuk ke otakku.
Seperti
siang itu, entah mengapa aku langsung jengkel saat melihatnya.
“Eh,
buku gue yang lu pinjem kemarin lu kemanaiin?” katanya. Aku memandangnya
sekilas.
“Situ.
Cari aja ndiri. Paling di meja gue.” Balasku.
“Lu
tuh yah, kalo udah dipinjemin suka lupa balikin apa-apa gue.”
“Daripada
lu, suka rusakin barang-barang gue.”
“Barang
lu yang manaa?” suaranya terdengar mulai meninggi.
“Itu
yang dulu lu pinjem, tempat pensil gue.” Balasku ngotot.
“Eh,
itu baru sekali juga gue rusak, itupun emang barang lu aja yang udah lapuk..”
“Sudah,
lu diem aja. Tutup tuh mulut lu!” bentakku memotong ucapannya.
Dia
lalu mengadu ke mama. Mama memang orang tua teradil yang pernah ku temui. Dia
tak pernah membela satu diantara kami jika memang tak ada yang salah.
Namun,ucapan mama sudah membuatku berdosa dengan menyimpan jengkel untuk mama
dalam hatiku.
“Kamu
juga De, kalo udah minjem barang kakak kamu, inget balikin. Karin itu kakak
kamu, hargai dia sekali saja. Kalian itu memang tidak pernah bisa bersatu. Anak
mama Cuma dua, tapi kalian berdualah yang kelak akan membunuh mama. Mama stress
liat sikap kalian. Itu pisau di dapur, pake itu aja bertengkarnya..” ujar mama
dengan nada yang tinggi. Aku hanya mengumpat dalam hati
Aku
iri, sumpah aku iri. Hampir semua temanku memiliki kakak yang bisa dia ajak
curhat. Sedang aku, aku lebih memilih curhat dengan temanku sendiri, yang
akhirnya ternyata membongkar rahasiaku secara perlahan di muka umum. Aku tak
tahu, ternyata orang yang selama ini kuanggap sahabat, hanya menjadi mata-mata
dari gengnya, yang sejak dulu membenciku karena salah paham.
Tak
ada pagi yang kami lalui tanpa bertengkar, begitu kata mama. Dan memang begitu
nyatanya. Mungkin kami tidak bertengkar secara fisik, namun secara ucapan. Nada
suara kami yang sama-sama tinggi membuat mama setiap pagi hampir naik darah,
bahkan sempat dirawat dirumah sakit karena tekanan darahnya yang tinggi setelah
aku dan Karin bertengkar 3 bulan yang lalu.
“Ma,
uang jajanku tambah dong duapuluh ribu aja..” kataku pada mama pagi itu. Mama
sudah bersiap berangkat ke kantornya.
“mama
nggak ada uang dulu nak,besok aja yah..” mama tetap sibuk memasang sepatunya.
“Masa
sih ma, duapuluh ribu doang. Mama kan kerja kantoran..” bujukku.
“Tapi
memang mama tidak punya nak. Makanya, mama bilang dari dulu, jangan suka
bertengkar. Gini kan hasilnya, kalian suka susah kalo minta uang jajan sama
mama. Papa kamu udah cuek sama kalian. Sudah, mama mau berangkat..” mama berdiri
dari duduknya.
“Tapi
ma, aku udah nunggak 2 hari bayar LKSnya..” aku mulai gelisah, memikirkan
hukuman malu yang akan kudapatkan dari guruku karena tidak bisa membayar LKS
yang sudah ku tunggak selama 2 hari ini. ku yakin, jika aku mengatakan tak punya
uang, satu sekolah pun tak akan percaya.
“Mama
bilang gak ada, ya nggak ada. Udah mama berangkat duluan..” mama kini berlalu
dengan motornya. Aku berjalan ke arah Karin yang sudah berada di atas bemo.
“Nih,
kamu pake uang aku aja dulu..” Karin menyodorkan selembar uang 20.000 ke tanganku. Aku mengambilnya
sungkan. Aku tak berani menatap matanya. Aku hanya menunduk. Mataku yang sedari
tadi berkaca-kaca, kini semakin tersa berat. namun rasa gengsiku jauh lebih besar
untuk mengucapkan terimakasih padanya.
Uang
itu tak ku kembalikan. Karin tak pernah menagihnya. Aku tahu, Karin bisa
mendapatkan uang lebih dari itu dalam sekejap. Dia sudah menjadi langganan di
sebuah majalah yang selalu bersedia membayarnya demi sebuah cerpen. Lama, aku
pun akhirnya melupakan hal itu.
Sudah
seminggu ini rumah teras sepi. Tak ada yang menemaniku bertengkar. Aku tak
tahu, namun aku akui saat ini aku rindu pada kakakku itu. Sudah seminggu ini
dia berbaring dirumah sakit. Semenjak kecil dia memang menderita kanker otak.
Aku sempat jengkel padanya karena mama seolah jauh lebih menyayanginya. Sering
kali ku bentak mama hanya karena rasa cemburuku saat mama membelanya.
Mama
mengajakku untuk menjenguk Karin di hari kesepuluhnya di rumah sakit. Saat
kulihat wajahnya, jujur aku ingin menangis. Wajahnya pucat, matanya sayu,
rambutnya sudah terlalu tipis karena kemoterapi. Percaya atau tidak, sebagian
besar biaya operasinya dia sendiri yang membiayainya, terutama membeli obat.
Namun rasa jengkel tiba-tiba menghampiriku, membuatku membatalkan niat
memberinya senyuman. Diapun tampak cuek, masih sibuk mengutak-atik laptop yang
dibelinya sendiri.
3
hari semenjak aku menjenguknya bersama mama, keadaan rumah sepi. Papa tak ada
di rumah. Mama juga tak ada. Saat itu ku tahu, ternyata keadaan Karin sedang
gawat di rumah sakit. Aku bergegas ke rumah sakit, walaupun rasanya sungkan
mengeluarkan uangku untuk membayar angkot.
“Ma,
Ka..rin.. ma.. mau.., ce.. ri.. ta.. sa..ma.. DeLa..”ku dengar suara Karin yang
terbata-bata. Dokter sudah memprediksikan tak ada cara lagi untuk menyembuhkan
Karin. Sel-sel otaknya telah rusak karena kanker itu, sehingga membuat
organ-organ lainnya tak mampu berfungsi dengan baik. Bantuan pernafasan
untuknya pun kini telah dibuka atas permintaannya sendiri. Hingga saat ini aku
masih gengsi untuk mengeluarkan air mata untuknya.
“Del,
ka..ka.. sa..yang sama.. ka.. mu.. Jangan.. repotin mama pa..pa.. Ka..kamu.
pake uang aku.. untukk Ku..liah yah.. Baha..gia..in orang tua.. kita. Ka..mu..
tungguin.. honor .. novel.. ak.. aku. Itu.. untuk kamu.. se..mua. maa..fin
kakak.. selama ini. ka..kak..sayang kamu..” ujarnya terbata. Air matanya
mengalir drastis. Aku tak tahu harus berbuat apa. Mulutku terkunci rapat. Aku
hanya bisa memeluk tubuhnya yang kini terasa dingin dan kaku. Ku bisikkan di
telinga “Aku sayang kamu, kakak..”
Dia
mengucapkan kalimat syahadat dengan sangat pelan, dan akhirnya badannya itu
melemah. Aku memeluknya semakin erat. Mengapa baru saat ini kau datangkan rasa
sayangku padanya, ya Allah. Selama ini, dia menulis sepanjang waktu, ternyata
hanya untukku. Betapa mulia niatmu kak. Maafkan aku, aku terlalu egois. Aku
akan bahagiakan orang tua kita demi kamu. Aku sayang kamu, kak!