Cinta Asem Manis
Suara gadung menyelimuti kelas IPA2 , kelas yang berada di
ujung sekolah itu. Siang itu, guru yang mengajar Biologi lagi ada meeting
mendadak, kegaduhan dikelas ujung itu tak tertahankan.
“Cie..cie..” kalimat it uterus
menghiasi pelosok kelas gaduh itu.
“Hahahaha… Rey ! Rey ! Tuh si Desi
sendirian. Temenin dong…” usil si Gaby, yang terkenal sebagai cewek terimut
dengan pipi tembem dan mata buletnya.
“Yah, tuh si Desi, Rey.. Dia cantik
loh.. Gak usah masang senyum munafik deh..” sambung Fina.
Ejekan itu telah menjadi makanan
yang wajib dikelas. Rey, yang terkenal dengan sikap dingin dan cueknya itu
selalu menjadi korban ejekan dengan Desi, cewek pendiam yang super manis
dikelas. Mereka berdua betul-betul menjadi bahan yang gak bakal ada habisnya
buat dicungkil, apalagi setiap melihat ekspresi datar keduanya saat diejek,
aseuuk jeung !
Gita hanya tersenyum saat melihat
teman-temannya sibuk mengatur drama khayalan yang diperankan Rey dan Desi itu.
Sesekali dia ikut menimpali. Namun, kini ada rasa canggung yang menyelimuti
hatinya. Dia hanya memilih diam disaat melihat wajah Rey yang tersenyum dan
memerah saat diejek oleh mahluk-mahluk gaib itu.
“Git,, tumben lu ngayal. Ada apa sih
?” Winy membubarkan lamunan panjang Gita.
“Ah, gak ada apa-apa kok.” GIta
berusaha menyembunyikan senyum kecemburuan yang terpajang di wajahnya.
“Lu cemburu kan, soal itu….” Winy
melirik ke arah kerumunan teman-temannya.
“Entahlah…” Gita kembali fokus
dengan bacaannya.
“Udah deh, Git. Lu gak usah ngurusin
gituan. Toh, dulu dia udah ngabein perasaan lu saat lu diejek habis-habisan
karna lu ketauan suka sama dia.” Winy kembali merapikan bandonya.
Gita masih mengingat wajah malunya
saat diejek sama anak-anak gank tenar SMPnya dulu. Kejadian itu membuat semua
teman sekelasnya di SMP membencinya.
Awalnya sih sepeple, Gita Cuma nyanyiin sebuah lagu yang liriknya diubah pake
namanya si Rey. Eh gak taunya ada yang nguping. Ngelapor deh tuh orang sama
ketua genk tenar itu, yang notabene ternyata suka juga sama si Rey.
“Udah deh Git, gak usah kebanyakan
ngayal. Biarin aja dia sama Desi. Toh masih banyak kan cowok lain..” untuk
kedua kalinya Winy membubarkan hayalan Gita.
Gita hanya berbalik menatap Winy dan
kembali fokus dengan bacaannya. Bel tanda pulang nyaring berbunyi membuat
Winy memotong ocehannya sendiri. Gita
sedikit tersenyum melihat wajah manyun Winy. Namun Gita yakin, ocehan panjang
itu akan bersambung di jalan.
Baru saja Gita melangkahkan kakinya
selangkah sambil menganggkat tasnya, wajah Rey udah bertengger di hadapannya., hanya 3 jengkal
dari hidungnya. Spontan, tampang kaget langsung menghiasi wajah Gita.
“Git, tugas kelompok kita tinggal
gue print, kan ?” ujar Rey tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“A..a..a..eh, iya. Filenya lu yang
pegang, kan ?” ujar Gita.
“Hm,, iya. Ya udah..” Rey tampak
canggung dan segera berbalik. Gita hanya memandang lirih cowok yang kini berada
di pintu kelas itu.
Seminggu berlalu. Gita masih menjauh
dari kerumunan teman-temannya yang sibuk mengejek Rey dan Desi. Dia tahu, ini
aneh. Tapi dia merasa canggung saat berada di samping Rey. Lebih parahnya lagi
si Rey, penyakit gagapnya langsung kambuh saat berbicara dengan Gita.
Sorakan teman-temannya yang asik
mengolok-olok kedua insan itu semakin menjadi-jadi.
“Resi, Rey Desi. Wah, klop dah..”
Ujar Dewi.
“Wah, mending Pa’re sama Bu’de… Pas
kan ?” ucapan Kevin membuat wajah Desi memerah.
“Ya..pas !” sorak yang lainnya. Rey
hanya tersenyum simpul. Sambil tertunduk, Rey berbalik menatap Gita yang sibuk
menulis. Namun Gita tak menyadarinya…
Sekolah tampak sepi sore itu. Tujuan
Gita dan Winy ke sekolah hanya untuk les matematika. Dan les matematika siang
itu berhasil mereka lewati dengan sukses. Selanjutnya, Gita dan Winy memilih
tinggal di kelasnya. Di kelas ada Gaby, Dewi, Kevin, Rudy, Fina, serta tak
ketinggalan Rey dan Desi.
“eh, keluar dulu yuk.. Rey mau
bicara sesuatu nih ma Desi..” teriak Kevin. Spontan, semua penduduk kelas itu
bergegas keluar, meninggalkan Rey dan Desi.
Entah apa yang Rey ucapkan, yang
pastinya Rey menyatakan cintanya pada Desi. Dan ya, happy ending ! Rey kini
resmi menjadi pasangan Desi. Sorak kegembiraan jelas terpancar dari wajah
seluruh penghuni kelas itu. Ini adalah hal yang telah lama mereka tunggu.
Dan tak terasa sebulan setelah
kejadian itu. Gita sudah sedikit demi sedikit bisa melupakan perasaannya,
bahkan menutup hatinya sama sekali untuk kaum adam. Yang ada di fikirannya
sekarang hanya BELAJAR. Dia tak peduli lagi dengan hatinya sendiri, walaupun
sudah banyak yang mencoba mengetuk hatinya.
Seharian, Gita tak bersama Winy. Mereka tidak marahan, namun hanya ada
kesibukan sendiri. Winy seolah memiliki suatu urusan penting, sehingga dia
sedikit menjauhi Gita. Namun Gita berusaha berfikir positif, mungkin Winy
sedang sibuk, hanya itu yang difikirkan Gita.
“ah, mau pipis nih..” ujar Gita
sendiri pada dirinya. Bergegas dia meninggalkan bangkunya dan menuju ke WC
sekolaha.
Sedikit berlari, Gita melewati celah
antara kelasnya dan kelas X2 . tanpa sengaja, dia mendengar
sebuah pembicaraan.
“Ha, lu masih suka sama Gita ? Gak,
gak boleh gini dong. Lu kan udah punya Desi. Lu gak besyukur udah punya yang
keren gitu ?” sebuah suara yang menurut Gita mirip dengan suara Winy.
“yah, gue tau, gue udah punya Desi,
dia emang perfect, tapi itu Cuma buat ngobati sakit hati gue karna gak bisa
miliki Gita. Lu ngerti maksud gue lah…” kali ini yang terdengar suara cowok,
dan sepertinya sudah bisa di duga siapa pemiliknya.
“Lu pikir Gita gak sakit ? Dari SMP
dia udah suka sama lu, tapi lu cuek aja sama dia. Dia ngakuin dia suka sama lu,
bahkan dia sampai di benci sama teman sekelas gara-gara suka sama lu, tapi lu
belum juga respon dia. Kalo lu emang suka, mestinya dari awal lu udah bantuin
dia. Belain dia kek..”
“gue gak bisa. Kalo gue belain dia,
gue bakalan di benci sama anak genk tenar. Gue gak mau itu. Gue baru berani
bilang sekarang, soalnya gue udah gak punya tekanan. Tapi pas gue liat dia ama
pacarnya, gue sakit. Baru sekarang gue berani suka dia lagi, karena dia udah putus.
Itu doang. Gue bisa mutusin Desi sekarang, ato bisa juga gue backstreet dulu
ama Gita. Ya kan ?”
“enak aja lu, lu pikir Gita suka ?
Gak tau ! gila lu yah, lu pikir gak sakit apa tuh si Desi lu mainin?”
“Gue tau, tapi kan asal dia gak tau
apa-apa aja. Gue jadi gini semenjak gue ngerasa gue ini banci, gak bisa belain
orang yang sangat sayang sama gue… maaf”
“Oh, jadi ternyata Desi ini hanya
pelarian kamu aja? Desi gak ada makna gitu di mata kamu?” sebuah suara
memecahkan ketegangan yang terjadi, dan ya.. itu Desi !”
“Ah, nggak Des, bukan gitu maksud
aku..” Rey menghampiri Desi dan berusaha meyakinkannya.
“Desi udah dengar semuanya, Rey.
Kenapa gak dari awal aja kamu bilang gini, agar Desi gak usah sayang sama kamu
? Ini sakit ! Dasar, kamu gak bisa ngertiin perasaan cewek. Kamu betul-betul
banci!” dan kali ini Desi betul-betul sudah sangat marah, belum pernah
sebelumnya dia terlihat mebentak seseorang, karena dia cewek yang lembut.
“Maaf Des..” hanya kata itu yang Rey ucapkan.
“Kalo kamu mau sama Gita, gak papa,
aku yang ngalah..” ujar Desi.
“Gak, gak Des. Kamu gak boleh akhiri
hubungan kalian gini aja. Aku yang salah. Aku yang bakalan ngalah. Maaf aku
ganggu hubungan kalian. Dan Rey, kamu gak usah peduliin perasaan aku. Perasaan
sayang aku sama kamu itu Cuma dulu aja. Sekarang udah nggak, bagi aku kamu
hanya teman, titik.” Gita langsung menghampiri Rey dan Desi, serta Winy.
“aku yang pergi. Kebetulan besok
ayahku udah pindah kerja lagi, jadi aku ikut. Ngak perlu ada yang sedih. Yang
pasti kalian cocok. Kalian serasi. Maaf..selama ini aku mungkin jadi bayangan
buruk di hubungan kalian..” ujar Gita dan berlalu. Baru kali ini merasakan
menjadi pengahancur, bahkan itu temannya sendiri. Kepergiannya mungkin jalan
yang terbaik…
SELESAI…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar