Sabtu, 06 Oktober 2012

Melodi Valentine


Melodi Valentine
                Nisa, begitulah biasanya teman-teman memanggilku. Lengkapnya, Dewi Farnizza Queenaradha. Nama yang menurutku sangat panjang. Jam istirahat kedua di sekolahku kali ini aku isi dengan membaca novel di depan kelasku. Tampak temanku yang lainnya sibuk dengan rutinitas mereka.
                Tidak seperti sekolah lainnya, sekolahku ini dipenuhi dengan siswa dari berbagai agama, ada Islam, Kristen, Hindu, Konghucu, hingga Budha. Hanya ada 35 siswa yang beragama sepertiku, Islam. Tapi itu semua tak menyurutkan semangatku untuk tetap bergaya Islam, karena di sekolah ini, hanya aku yang memakai jilbab. Itu bukan masalah bagiku. Justru itu cirri khasku.
                Sebuah suara pianika terdengar disampingku. Segera, ku tutup novelku dan berbalik. Dan, ya.. sudah ku duga !
                “heii Nis ! Lagi sibuk yah? Ke kantin yuk..” ajak Khair, cowok sekelasku yang beragama Hindu, yang tadi memainkan pianika di sampingku.
                “Oh, iya.. makasih yah. Tapi aku udah tadi ke kantinnya.” Ku tatap papan nama yang melekat di bajunya, Khairnas Wisnu Aryapura. Nama apa lagi ini, gumamku :D
                “Oh, ya udah, aku duluan yah.. bey !” dia berlalu sambil melambaikan tangannya.
                Ku lanjutkan membaca novel di tanganku itu. Seperti biasa, ketika aku duduk sendiri seperti ini, akan ada 5 orang teman sekelasku yang berbeda agama, dan berjenis kelamin c.o.w.o.k menghampiriku.
                Dan  yang kedua datang, yaitu Fary, lengkapnya Mufaryus Christian, cowok beragama Kristen itu ketua kelasku. Selanjutnya, Rhan Ansy Ianchan, wakil Ketua kelasku yang beragama Konghuchu, lalu I Made Naliq Balika, teman sekelasku juga yang beragama Budha, dan terakhir ada si Addie Januarta Railli, yang beragama Protestan.
                Setelah mereka berlima menghampiriku, waktunya tatapan aneh dari sebagian besar temanku. Bahkan, banyak yang bilang, aku hanya bersembunyi di balik penutup kepala anehku. Dan kali ini, seperti biasa, Ken, gadis yang terkenal sebagai model di sekolahku menghampiriku. Roknya yang sejengkal diatas lutut memperlihatkan betisnya yang mulus.
                “Hey… udah berapa kali gue ingatin sama lu, jangan deketin Fary, kamu denger gak sih ?” cewek penghuni kelas 102  itu menatapku. “Kalian itu beda agama, tau ! Lagi pula kalian gak cocok. Cuma gue, yang cocok sama dia, gue cantik, model, terkenal, dan pastinya seagama sama dia. Sekali lagi lu sok alim deketin dia, gue gak segan-segan lempar lu dari sekolah ini.”lanjutnya. dia langsung pergi dengan mengibaskan rambutnya.
                Oke, dia cewek yang paling membosankan bagiku. Minggu lalu, dia juga datang padaku hanya untuk mewantiku agar tidak dekat dengan Khair karena kata dia Khair itu pacarnya. Bulan lalu juga dia di gosipkan dekat Addie, bulan lalunya lagi dia katanya deket ama si Naliq. Bahkan, awal masuk sekolah, dia suadh men-cap Rhan sebagai kekasihnya. Tapi, yang aku herankan, mengapa semua cowok yang dia taksir ada di kelasku? Padahal menurutku, mereka berlima biasa saja…
                Awal bulan Februari. Sekolahku telah heboh dengan kata VALENTINE ! mereka sibuk merencanakan kegiatan untuk valentine kali ini. Aku biasa saja. Bukannya aku tidak menyukai Valentine, bahkan sebenarnya aku sangat ingat dengan hari itu, karena dihari itulah aku menghirup udaranya dunia. Tapi, aku tidak suka, jika di hari Valentine kita harus tukar kado dengan pacar. Apa tidak boleh yah dengan sahabat?
                Sahabat ? Sahabatku cuma Zhian, gadis beragama Konghucu yang duduk di sampingku dari bangku Smp. Tapi aku yakin, dia pasti tukar kado dengan pacarnya, Kevin. Jadi, tahun ini aku tidak akan merayakan Valentine secara special, apalagi memang itu bukan kewajiban kan ?
                Sepuluh hari lagi, Valentine datang, berarti hari ulang tahunku juga sisa sepuluh hari lagi. Harapanku di tahun ini, semoga aku tetap bisa mempertahankan peringkat 1 umumku hingga tamat SMA. Itulah sebabnya mengapa aku berusaha mempertahankannya, karena dengan prestasi itu, aku bisa meraih beasiswa ke Kanada untuk melanjutkan kuliah. Itu cita-citaku.
                Jujur, motifasi terbesarku melakukan semua ini hanya demi kedua orang tuaku. Beban yang mereka tanggung untukku sudah sangat besar, apalagi untuk pengobatan penyakit yang bersarang di tubuhku. Aku tak ingin memberatkan mereka untuk biaya kuliah ku  nanti.
                Saat sibuk mengerjakan tugas matematikaku, tiba-tiba penglihatanku gelap. Sakit kepalaku kambuh lagi. Aku berusaha menahannya. Aku harus kuat. Tapi ini sangat sakit. Aku tidak mau rumah sakit menjadi ujungnya dan kedua orang tuaku lagi yang menanggung semuanya. Aku bahkan tidak mau mereka tahu rambutku saat ini sudah sangat tipis karena kanker otakku ini.
                Tapi sakit ini tak mampu aku tahan. Aku tak sadar lagi. Ku pegang erat jilbabku, seolah ingin ku buang kepalaku ini. Dan, aku pingsan, aku tak sadar apapun sekarang. Yang terakhir ku dengar hanya suara Zhian memanggilku.
                Ku buka pelan-pelan mataku. Yang pertama kulihat ibuku, dengan matanya yang sembab. Disampingnya ada ayahku dan kedua adikku. Mereka juga tampak sangat sedih. Aku tak tahu ini di mana.
                “Bu…”ucapku pelan.
                “Iya sayang.. Alhamdulillah kamu udah sadar.” Ibuku langsung mengecup keningku.
                “Aku di mana Bu? Tadi aku dengar suara alunan musik yang indah. Suara apa itu bu?” tanyaku.
                “Kamu di rumah sakit nak. Sudah tujuh hari kamu disini. Suara itu dari 5 temanmu yang mau kamu cepat sembuh sayang, hari ini. Mereka tadi mainnya keren loh sayang. Ada yang main piano, gitar, biola. “ ucapan Ibu membuatku kaget. Apa betul mereka semua yang menyadarkanku?
                2 hari kemudian, aku sudah boleh pulang. Ada banyak hal yang ingin ku lakukan. Aku rindu kamarku, gumamku pelan.Esoknya, aku sudah ada di bangkuku lagi, di samping Zhian. Zhian menyambutku dengan sangat heboh pagi ini. Dia membawakanku sekeranjang bunga melati kesukaanku. Aku sangat sayang dia..
                “Nis, ada yang mau aku omongin sama kamu..” Zhian menatapku lembut.
                “Apa, Zhi ?” tanyaku penasaran sambil merapikan bukuku.
                “Aku tau kenapa Ken mendekati semua cowok di kelas kita. Ternyata dia itu iri sama kamu. Dia mau seperti kamu, yang tanpa diminta 5 cowok keren sekolah kita itu datang sama kamu. Dan yang terpenting, ternyata minggu lalu dia yang masukin racun tikus di bakso kamu. Untung ada Fary yang liat itu, jadi dia ganti bakso kamu. Dia juga loh yang ngancam si Ken agar gak ganggu lo. Beruntung banget sihh kamu ..” Zhian langsung mencubit pipiku.
                Aku tertegun. Apa betul yang Zhian ucapkan? Aku masih tidak percaya….
                Ini hari valentine. Semuanya berubah menjadi pink. Ku lihat di sekelilingku di sekolah ini, mereka sibuk dengan pasangan mereka sepulang sekolah. Aku sendiri, karena Zhian sedang pergi dengan Kevin. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkanku, tapi aku yang maksa dia tuk temani Kevin.
                Sepanjang jalan ke gerbang sekolah, banyak mata yang memandangku sambil tersenyum. Banyak juga yang ngucapin Happy birthday. Aku syukuri itu, ternyata masih banyak yang ingat aku. Tapi kali ini, jantungku betul-betul hampir loncat.
                Di gerbang sekolah, tampak Nalqi dengan boneka beruangnya yang setinggi piggangku. Boneka itu memegang sebuah hati dengan tulisan *happy birthday, bidadariku… Nisa*. Dia berjalan kearahku diiringi teriakan “Terima..” dari teman-temanku. Ada apa ini ?
                Belum selesai kagetku, sebuah suara piano dari pos satpam sekolah. Tampak Khair duduk di belakang piano itu. Dia menghampiriku dengan sebuah miniature piano yang sangat indah bertuliskan *selamat ulang tahun… Nisa..* dia menghampiriku dengan senyum khasnya.
                Lalu, di belakangku, Addie membawa sekeranjang bunga melati kesukaanku. Di depan mataku, dia langsung mengukir kalimat “happy birthday..” dengan bunga melati itu. Sangat indah, gumamku. Dia menghampiriku dengan sekotak melati bertuliskan namaku.
                Belum hilang kagetku, Rhan datang membawa coklat sebesar laptopku dengan ukiran Happy Birthday di tengahnya. Mau ku simpan dimana coklat sebesar ini ?
                Aku pusing. Semua temanku meneriakkan nama-nama jagoan mereka, mulai dari Nalqi, Khair, Addie, dan Rhan. Aku ingat sesuatu, tak ada Fary ! Astaga, aku tiba-tiba ingat dia. Tapi aku tidak boleh terlalu berharap, mungkin dia memang tidak menyukaiku. Mengapa aku justru mencarinya?
                Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku, dan berbisik Happy Birthday. Aku berbalik. Ternyata dia orang yang ku cari, Fary.
                “Happy birthday yah. Aku gak seromantis mereka, bisa ngasi kamu apa-apa. Aku gak sehebat mereka, bisa ngelakuin semua demi kamu.. aku gak sekeren mereka, bisa nembak kamu seketika di depan teman-teman. Aku Cuma bisa nurutin saran kamu, ikuti kata hatimu. Dan kata hatiku bilang, aku gak pantas buat gadis seperti kamu. Makasih udah ngajarin aku arti hidup.” Fary berbalik dan pergi.
                “Far, kamu kok ngomong gitu ?” Ku hampiri dia tanpa peduli tatapn teman – temanku.
                “Yah, aku jujur, sebenarnya aku yang ngasi tau mereka tanggal lahir kamu. Aku juga yang awalnya rencanain ngucapin surprise buat kamu. Tapi semua itu di dasarkan taruhan. Kami berlima taruhan, siapa yang bisa naklukin kamu di hari ini, bakal di cap sebagai cowok terkeran diantara kami. Dan dia bisa jadi ketua OSIS tahun ini.” Ucapnya. Aku syok. Jadi aku hanya barang taruhan?
                “tapi aku gak mau lakuin itu sama kamu. Kamu beda dari cewek lain yang gue kenal. Gue sadar, gue salah kalo gue ngikutin semua ini.” Fary menatapku dengan senyumnya yang indah. “Sekarang terserah kamu, mau milih siapa, yang pasti aku gak masuk kategori.” Fary tertenduk. Aku tertegun.
                “Kalo aku milih kamu, boleh?” tanyaku pelan..
                “Maksud kamu?” Fary berbalik dan menghampiriku.
                “Ya, aku sadar. Sebenarnya gak ada yang pantas aku pilih selain kamu. Kamu gak nganggap aku taruhan seperti mereka. Kamu tulus. Walaupun sebenarnya, mungkin kita gak bakal cocok, karena agama kita beda, tapi aku milih kamu. Makasih udah nyadarin aku tentang semua sandiwara ini.” Aku tertunduk. Aku ingin nangis. Gak nyangka, ternyata mereka mendekatiku hanya karna taruhan.
                “Kamu serius?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk dengan air mataku.
                “Makasih. Kamu gak perlu khawatir tentang keyakinan kita, aku udah seagama denganmu.” Lanjutnya pelan.
                “Kamuu Muslim?” tanyaku ragu..
                “Yah. Minggu lalu papaku masuk Islam saat nikah dengan mama baruku yang beragama Islam. Aku juga ikut masuk Islam, karena kamu..” dia mendekatiku. “Ini untukmu.. kado ini yang bisa ku berikan padamu..” Dia menyodorkan sebuah al-qur’an kecil yang sangan indah.
                “makasih.. ini kado terindahku.” Ku terima kado itu dengan tersenyum.
                “Nis, kita semua minta maaf yah, kami sadar salah ngelakuin semua. Walaupun kamu gak milih kami, kamu tetep maukan trima kado kami?”  Rhan menyodorkan Coklatnya.
                “Iya, maksih yah. Kalian gak slah kok. Aku gak marah juga kok. Tenang..”
                Ku terima semu kado itu. Aku tak tahu harus pulang dengan apa membawa kado-kado ini. Fary membantuku membawa kado itu ke mobilnya dan berbisik, “Kadoku kecil yah.” Aku hanya mencubit pipinya dan masuk ke mobilnya sambil melambaikan tangan kepada teman-temanku. Besok aku harus membantu Pak Har membersihkan sekolah ini, gumamku.









1 komentar:

  1. INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_ 4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT






    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_ 4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT

    BalasHapus