Selasa, 20 Desember 2011

Cerpen gue (Sayang Untuk Kakak)


ini cerpen hasil tangan gw sendiri :)
Sayang untuk Kakak J
                Kata orang, punya saudara itu, khususnya kakak, sangat menyenangkan. Ada yang bisa membantu dan mengajari kita sesuatu, apalagi jika kakak itu sejenis dengan kita. Namun mungkin aku termasuk dari beberapa orang yang jelas membantah argument tersebut. Aku memiliki kakak, yang sama-sama cewek, yang minta ampun menyebalkannya.!
                Usiaku dengannnya hanya beda 2 tahun. Secara fisik aku jauh lebih tinggi darinya 2 cm, walaupun ukuran badan kami tak jauh berbeda. Bahkan, beberapa orang menganggap kami mirip, yang membuat telingaku terasa gatal. Aku tidak suka ungkapan itu.
                Hampir setiap hari rumahku terasa panas saat kami bertemu. Mama sudah bosan dengan tingkah kami. Papa sudah sangat tidak mau ambil pusing. Aku pun sebenarnya capek dengan semuanya, namun entah mengapa saat menatap dia rasa jengkel merasuk ke otakku.
                Seperti siang itu, entah mengapa aku langsung jengkel saat melihatnya.
                “Eh, buku gue yang lu pinjem kemarin lu kemanaiin?” katanya. Aku memandangnya sekilas.
                “Situ. Cari aja ndiri. Paling di meja gue.” Balasku.
                “Lu tuh yah, kalo udah dipinjemin suka lupa balikin apa-apa gue.”
                “Daripada lu, suka rusakin barang-barang gue.”
                “Barang lu yang manaa?” suaranya terdengar mulai meninggi.
                “Itu yang dulu lu pinjem, tempat pensil gue.” Balasku ngotot.
                “Eh, itu baru sekali juga gue rusak, itupun emang barang lu aja yang udah lapuk..”
                “Sudah, lu diem aja. Tutup tuh mulut lu!” bentakku memotong ucapannya.
                Dia lalu mengadu ke mama. Mama memang orang tua teradil yang pernah ku temui. Dia tak pernah membela satu diantara kami jika memang tak ada yang salah. Namun,ucapan mama sudah membuatku berdosa dengan menyimpan jengkel untuk mama dalam hatiku.
                “Kamu juga De, kalo udah minjem barang kakak kamu, inget balikin. Karin itu kakak kamu, hargai dia sekali saja. Kalian itu memang tidak pernah bisa bersatu. Anak mama Cuma dua, tapi kalian berdualah yang kelak akan membunuh mama. Mama stress liat sikap kalian. Itu pisau di dapur, pake itu aja bertengkarnya..” ujar mama dengan nada yang tinggi. Aku hanya mengumpat dalam hati
                Aku iri, sumpah aku iri. Hampir semua temanku memiliki kakak yang bisa dia ajak curhat. Sedang aku, aku lebih memilih curhat dengan temanku sendiri, yang akhirnya ternyata membongkar rahasiaku secara perlahan di muka umum. Aku tak tahu, ternyata orang yang selama ini kuanggap sahabat, hanya menjadi mata-mata dari gengnya, yang sejak dulu membenciku karena salah paham.
                Tak ada pagi yang kami lalui tanpa bertengkar, begitu kata mama. Dan memang begitu nyatanya. Mungkin kami tidak bertengkar secara fisik, namun secara ucapan. Nada suara kami yang sama-sama tinggi membuat mama setiap pagi hampir naik darah, bahkan sempat dirawat dirumah sakit karena tekanan darahnya yang tinggi setelah aku dan Karin bertengkar 3 bulan yang lalu.
                “Ma, uang jajanku tambah dong duapuluh ribu aja..” kataku pada mama pagi itu. Mama sudah bersiap berangkat ke kantornya.
                “mama nggak ada uang dulu nak,besok aja yah..” mama tetap sibuk memasang sepatunya.
                “Masa sih ma, duapuluh ribu doang. Mama kan kerja kantoran..” bujukku.
                “Tapi memang mama tidak punya nak. Makanya, mama bilang dari dulu, jangan suka bertengkar. Gini kan hasilnya, kalian suka susah kalo minta uang jajan sama mama. Papa kamu udah cuek sama kalian. Sudah, mama mau berangkat..” mama berdiri dari duduknya.
                “Tapi ma, aku udah nunggak 2 hari bayar LKSnya..” aku mulai gelisah, memikirkan hukuman malu yang akan kudapatkan dari guruku karena tidak bisa membayar LKS yang sudah ku tunggak selama 2 hari ini. ku yakin, jika aku mengatakan tak punya uang, satu sekolah pun tak akan percaya.
                “Mama bilang gak ada, ya nggak ada. Udah mama berangkat duluan..” mama kini berlalu dengan motornya. Aku berjalan ke arah Karin yang sudah berada di atas bemo.
                “Nih, kamu pake uang aku aja dulu..” Karin menyodorkan selembar  uang 20.000 ke tanganku. Aku mengambilnya sungkan. Aku tak berani menatap matanya. Aku hanya menunduk. Mataku yang sedari tadi berkaca-kaca, kini semakin tersa berat. namun rasa gengsiku jauh lebih besar untuk mengucapkan terimakasih padanya.
                Uang itu tak ku kembalikan. Karin tak pernah menagihnya. Aku tahu, Karin bisa mendapatkan uang lebih dari itu dalam sekejap. Dia sudah menjadi langganan di sebuah majalah yang selalu bersedia membayarnya demi sebuah cerpen. Lama, aku pun akhirnya melupakan hal itu.
                Sudah seminggu ini rumah teras sepi. Tak ada yang menemaniku bertengkar. Aku tak tahu, namun aku akui saat ini aku rindu pada kakakku itu. Sudah seminggu ini dia berbaring dirumah sakit. Semenjak kecil dia memang menderita kanker otak. Aku sempat jengkel padanya karena mama seolah jauh lebih menyayanginya. Sering kali ku bentak mama hanya karena rasa cemburuku saat mama membelanya.
                Mama mengajakku untuk menjenguk Karin di hari kesepuluhnya di rumah sakit. Saat kulihat wajahnya, jujur aku ingin menangis. Wajahnya pucat, matanya sayu, rambutnya sudah terlalu tipis karena kemoterapi. Percaya atau tidak, sebagian besar biaya operasinya dia sendiri yang membiayainya, terutama membeli obat. Namun rasa jengkel tiba-tiba menghampiriku, membuatku membatalkan niat memberinya senyuman. Diapun tampak cuek, masih sibuk mengutak-atik laptop yang dibelinya sendiri.
                3 hari semenjak aku menjenguknya bersama mama, keadaan rumah sepi. Papa tak ada di rumah. Mama juga tak ada. Saat itu ku tahu, ternyata keadaan Karin sedang gawat di rumah sakit. Aku bergegas ke rumah sakit, walaupun rasanya sungkan mengeluarkan uangku untuk membayar angkot.
                “Ma, Ka..rin.. ma.. mau.., ce.. ri.. ta.. sa..ma.. DeLa..”ku dengar suara Karin yang terbata-bata. Dokter sudah memprediksikan tak ada cara lagi untuk menyembuhkan Karin. Sel-sel otaknya telah rusak karena kanker itu, sehingga membuat organ-organ lainnya tak mampu berfungsi dengan baik. Bantuan pernafasan untuknya pun kini telah dibuka atas permintaannya sendiri. Hingga saat ini aku masih gengsi untuk mengeluarkan air mata untuknya.
                “Del, ka..ka.. sa..yang sama.. ka.. mu.. Jangan.. repotin mama pa..pa.. Ka..kamu. pake uang aku.. untukk Ku..liah yah.. Baha..gia..in orang tua.. kita. Ka..mu.. tungguin.. honor .. novel.. ak.. aku. Itu.. untuk kamu.. se..mua. maa..fin kakak.. selama ini. ka..kak..sayang kamu..” ujarnya terbata. Air matanya mengalir drastis. Aku tak tahu harus berbuat apa. Mulutku terkunci rapat. Aku hanya bisa memeluk tubuhnya yang kini terasa dingin dan kaku. Ku bisikkan di telinga “Aku sayang kamu, kakak..”
                Dia mengucapkan kalimat syahadat dengan sangat pelan, dan akhirnya badannya itu melemah. Aku memeluknya semakin erat. Mengapa baru saat ini kau datangkan rasa sayangku padanya, ya Allah. Selama ini, dia menulis sepanjang waktu, ternyata hanya untukku. Betapa mulia niatmu kak. Maafkan aku, aku terlalu egois. Aku akan bahagiakan orang tua kita demi kamu. Aku sayang kamu, kak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar